8.8.12

numpang ngeksis bermodal iPad temen :))

judul foto ini, bita dalam 36 gaya hahahah, sebenarnya ini karya iseng waktu jam kosong KKN, pake iPAd nya temenku si Raisa, ya bginilah jadinya, mohon maaf atas kenarsisan saya sebelum saya cerita panjang lebar tentang KKN saya post ini dulu ya hhe , :p






Semua Paragrap yang di sembunyikan

7.7.12

Community Service kel Thailand IR Fest HI 2009



Tulisan ini sbenarnya sudah dari pas MABA dulu aku nulisnya (2009), dan baru2 aja nemu di Laptop, hhe plis enjoyy  :))


“Community Service”
International Relation of Airlangga University 2009
SD Berkebutuhan Khusus, Klampis Ngasem 1
12 September 2009


“ Kita Tidak Bisa Memilih untuk Dilahirkan Seperti Apa yang Kita Inginkan “

Pengalaman dalam melaksanakan kegiatan bakti sosial sudah pernah saya rasakan saat bangku SMA setahun lalu, dengan sasarannya yang lebih fokus terhadap masalah ekonomi dan pendidikan. memang banyak sekali manfaat yang di dapat dalam kegiatan seperti ini. Selain sebagai wujud kepekaan atau kepedulian sosial, kita juga mendapat pengalaman, bisa berempati dan dapat memetik hikmah untuk dijadikan pelajaran hidup.

Pada kegiatan ini, kelompok Thailand mendapat bagian untuk melaksankan kegiatan bakti sosial di SD Berkebutuhan khusus Klampis. Hal ini merupakan pengalaman baru dan merupakan tantangan, karena minimnya pengetahuan tentang berinterasksi dengan anak berkebutuhan khusus. Sebenarnya Sedikit ada perasaan terbebani dan pesimis karena terlebih dahulu membayangkan keadaan yang tak terkontrol ketika berinteraksi bersama mereka. Pada hari “H” palaksanaan bakti sosial, perasaan “deg-degan” dan khawatir tidak bisa melaksanakan kegiatan dengan baik semakin terasa. Tetapi keadaan tidak seperti yang dibayangkan karena ternyata, mereka sangat appreciate dengan kegiatan yang kami rancang. Semua terkontrol, Walaupun diselingi teriakan-teriakan dan rengekan-rengekan dari beberapa anak meminta untuk lebih diperhatikan. Akhirnya, walau kegiatan yang dilakukan tidak sesuai dengan job description yang telah dirancang oleh kelompok kami sebelumnya, acara bisa berjalan dengan sukses.

Anak berkebutuhan khusus juga mempunyai hak yang sama dengan yang lain. Hak untuk mendapat pendidikan, perlindungan dan yang paling penting adalah kasih sayang serta perhatian .Mereka juga generasi penerus bangsa yang perlu dibantu, diperhatikan dan diarahkan untuk menjadi generasi yang bermanfaat bagi bangsanya, jangan dikira mereka terbelakang dan tidak mempunyai kelebihan, mereka adalah anak-anak “istimewa” yang membutuhkan bantuan dan arahan untuk mengasah dan mengarahkan bakat mereka, dan siapa lagi kalau bukan kita, yang menjadi sarananya. Kalimat yang benar-benar teringat ketika perwakilan dari SDBK memberikan “wejangan” setelah kegiatan ini adalah   “ Kita Tidak Bisa Memilih untuk Dilahirkan Seperti Apa”, yang membuat rasa bersyukur kita pada tuhan bertambah. Syukur yang tidak hanya diucapkan tapi dipraktekkan, salah satunya dengan tidak menyalahgunakan nikmat dari-Nya dan “peduli” terhadap lingkungan sekitar.

Acara Bakti Sosial yang termasuk rangkaian dari IR-Fest tahun 2009 ini merupakan acara yang bagus dan edukatif. Semoga acara ini bisa tetap ada pada rangkaian IR-Fest mendatang atau bahkan dilaksanakan dengan durasi yang lebih lama, agar lebih banyak kegiatan- kegiatan edukatif yang di berikan kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan sebagai sarana pengamalan ilmu. Selain dapat mengamalkan ilmu kita, semakin banyak juga pengalaman dan pelajaran hidup yang di dapat dan jalinan persaudaraan antar mahasiswa departemen Hubungan Internasional menjadi semakin erat


Paragraf Pertama
Semua Paragrap yang di sembunyikan

5.7.12

Menelisik Eksotika Kota Gresik : Menikmati cultural heritage Indonesia di kampung Kemasan

Harusnya postingan ini buat dikirim ke kuis artikel, tapi ternyata tenggat waktunya udah telat, hhe plis enjoyy :)
Menelisik Eksotika Kota Gresik : Menikmati cultural heritage Indonesia di kampung Kemasan

Nama kota Gresik bagi sebagian orang mungkin terasa asing. Beberapa yang pernah mendengar nama kota ini pun mungkin tidak memiliki bayangan sama sekali dimana tepatnya kota tersebut di Peta Indonesia. Gresik merupakan salah satu Kota Kabupaten di Jawa Timur yang letaknya berdekatan dengan Kota Surabaya dan Lamongan. Pada dasarnya kota yang berslogan ‘Gresik Berhias Iman’ ini tidak terlalu diidentikkan dengan kota yang lazim untuk tujuan wisata, karena ‘label’ yang melekat pada kota ini lebih kepada ‘Kota Santri’. Dinamakan Kota Santri antara lain karena penduduknya mayoritas islam yang taat dan banyak berdiri pondok pesantren di kota Gresik , terlebih dua diantara sembilan wali penyebar agama islam, yaitu Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri juga dimakamkan di kota ini.

            Walaupun tidak identik sebagai tujuan wisata, siapa sangka kota yang kaya tambak ini mempunyai sisi kota yang sarat akan sejarah dan sisi sosial budayanya. Salah satu dari tempak menarik tersebut yaitu daerah Kampung Kemasan. Kampung Kemasan merupakan sebutan untuk sebuah gang di kawasan yang dikenal dengan nama Pakelingan, Kecamatan Kota Gresik. Pada Abad 19, kampung kemasan merupakan pemukiman orang-orang Eropa dan Kaum Pribumi yang cukup mapan dari segi ekonomi, karena kawasan tersebut bisa dikatakan sebagai basis perajin dan pedagang pribumi saat itu. Sehingga terdapat beberapa Bangunan-bangunan di dalam dan disekitar lokasi ini memiliki arsitektur perpaduan antara corak Eropa, Cina serta arsitektur unik lainnya. Alasan tersebutlah yang membuat penduduk yang ada sekitar lokasi tersebut menyebutnya dengan ‘Kampung Kemasan’ yang berkonotasi dengan istilah masa-masa keemasan.



Salah satu Bangunan kuno di sekitar jln nyi ageng arem2

Add caption
            

Add caption

 Keberadaan bangunan bangunan indah yang berarsitektur kuno di daerah tersebut salah satunya disebabkan letak geografis Kota Gresik yang strategis.Gresik merupakan salah satu kota pantai utara Pulau Jawa dan letaknya dekat dengan pesisir, Apalagi Salah satu kawasan kota lama di Gresik ini lokasinya sangat berdekatan sekali dengan Pelabuhan Gresik, oleh karena itu Gresik menjadi salah satu pintu masuk dari budaya budaya yang dibawa oleh para pendatang dan akhirnya terserap dan terbaur dengan budaya lokal senantiasa terjadi, baik dari keberagaman etnis yang ada dan secara khusus juga pada model bangunan – bangunanya. Pada awalnya keunikan kampung ini belum begitu terekspos oleh media, tetapi beberapa tahun belakangan lokasi ini laris menjadi kunjungan beberapa wisatawan domestik dan bahkan luar negeri. Komunitas komunitas pecinta sejarah dan wisata budaya juga kerap memasukkan destinasi ini sebagai tujuannya. 
Nasi Krawu, Serundeng, daging, semur, dan sambelnya itu lhoo *yummy*

            Pada akhirnya, Kampung Kemasan merupakan sebuah destinasi yang cocok untuk para traveler yang haus akan wisata sejarah dan cultural heritage Indonesia, selain dimanjakan dengan keindahan arsitektur rumah, benteng dan bangunan lain yang ada disana, penduduk lokal di kawasan tersebut juga di kenal ramah dan penuh sambutan yang hangat. Jalan jalan sore dan hunting foto disekitar kampung kemasan akan menjadi kegiatan yang sangat mengasikkan, apalagi diakhiri dengan menyantap nasi krawu khas gresik yang legit dan menggugah selera.

Paragraf Pertama
Semua Paragrap yang di sembunyikan

29.6.12

Pancasila sebagai Budaya Strategis yang Paling Indonesia


         Berbicara mengenai budaya Indonesia secara umum, sangatlah mudah ditemui dalam berbagai referensi. Segala aspek tentang kebudayaan Indonesia telah dirangkum dengan begitu rinci dan menarik, seperti dalam Ensiklopedia ataupun buku-buku budaya yang diajarkan di sekolah-sekolah, baik dengan media cetak maupun visual, dari yang diabadikan dalam museum-museum ataupun dalam sarana representatif lainnya. Tulisan ini kemudian mencoba menggali suatu bentuk budaya strategis diluar bentuk yang kasat mata seperti tarian, pakaian atau tradisi, tetapi lebih kepada budaya dalam pengertian suatu sistem yang paling melekat pada suatu masyarakat dalam sebuah negara, lebih spesifiknya yaitu tentang Budaya Strategis yang Paling Indonesia.  
            Pada dasarnya, Banyak sekali referensi yang menyebutkan makna ‘Budaya’ dan ‘Strategis’ secara parsial, tetapi tidak begitu banyak ulasan mendalam terkait apa itu budaya strategis. Salah satu pengertian budaya strategis yang melatar belakangi tulisan ini dikutip dari  Melanie Graham dalam Tesisnya bahwa
“ Strategic culture is that set of shared beliefs, assumptions, and modes of behavior, derived from common experiences and accepted narratives (both oral and written), that shape collective identity and relationships to other groups, and which determine appropriate ends and means for achieving security objectives.”” [1]
    Dalam pandangan tersebut, Strategic Culture secara sederhana dalam intrepretasi penulis merupakan  suatu ‘sistem’ tingkah laku, sikap dan kepercayaan yang melandasi dan membatasi suatu pemikiran dalam mempengaruhi arah pengambilan kebijakan. Maka dari itu dengan adanya strategic culture tersebut dapat diambil suatu manfaat  dan keuntungan dari pengembangan dan penerapannya sehingga dapat menunjang kepentingan nasional suatu negara, baik manfaat internal ataupun sebagai sarana penunjang keeksistensiannya dan tujuan suatu negara dalam kancah internasional.
      Sebelum membahas tentang konsep ‘strategic culture’ apa yang dimiliki negara Indonesia, maka akan lebih baik jika dipaparkan sejarah dan latar belakang Indonesia dalam beberapa aspek, Pertama adalah aspek perpolitikan. Pergerakan nasional Indonesia dalam upaya penyapaian kemerdekaan, dipelopori oleh kemunculan organisasi – organisasi dalam dua kelompok yang berbeda, yaitu ‘organisasi pemuda daerah’ dan ‘gerakan islam’, yang dalam perkembangannya, dikarenakan rasa saling membutuhkan, rasa saling memiliki dunia yang lebih luas dari dunia mereka sebelumnya, organisasi- organisasi tersebut yang awalnya hanya bersifat sebagai ikatan primordial berkembang menjadi sesuatu pencapaian solidaritas yang tidak hanya dibatasi oleh makna kedaerahan saja.[2] Selanjutnya, Pada masa setelah diraihnya kemerdekaan, yaitu pada Era Orde Lama ‘ Konsep politik luar negeri Indonesia yang “bebas aktif’, menunjukkan ke’netral’an yang dimiliki  bangsa Indonesia, tidak kekanan, maupun ke kiri , ditambah dengan keikutsertaannya dalam memprakarsai Gerakan Non Blok, Indonesia benar-benar dapat dinilai sebagai negara yang aktif dalam upaya perdamaian dunia saat itu. 
            Kedua, Pada Ranah Sosial - Ekonomi, Indonesia yang notabenenya (pernah) disebut sebagai negara agararis, mempunyai tradisi tolong- menolong dalam kehidupan bersama, mereka dengan suka rela membantu tetangga yang butuh bantuan dalam pengerjaan sawahnya, membantu memasang atap rumah atau memasak makanan untuk acara syukuran, semuanya di lakukan sukarela karena mereka tau tetangga yang dibantu kan melakukan hal yang sama saat mereka sendiri yang memerlukan bantuan. Kemudian, Dalam era pasca kemerdekaan, Bung Hatta secara brilian mengemukakan bahwa perekonomian nasional harus didasarkan dengan basis kooperasi. Pemimpin negara saat itu telah turut pula berjuang untuk mencantumkan pola ekonomi dalam Pasal 33 Undang Undang Dasar (UUD) 1945 , pasal 1,2 dan 3 yang kesemuanya menjamin kesejahteraan rakyat.[3] 
            Sementara itu, Budaya masyarakat Indonesia sendiri, terbalut dari bermacam-macam latar belakang yang membuat semakin beragamnya budaya dan tradisi masyarakat Indonesia. Untuk masalah kepercayaan, Indonesia merupakan negara yang menjunjung tinggi agama, Di Indonesia, Agama memegang peranan penting, lebih kepada ‘moral support’ daripada diartikan sebagai ideologi negara[4],dikarenakan keadaan Indonesia yang tidak hanya multi-ethnic, tetapi juga multi-religious, dengan begitu menjadi sulit untuk memilih satu agama yang menjadi dasar ideologi, sehingga, penulis disini setuju dengan ‘alternative’ dari Gus Dur diatas, bahwa agama bisa dijadikan sebagai ‘moral support’ bukan sebagai dasar ideologi negara. saat ini Indonesia mengakui enam agama juga berpengaruh dalam praktek kehidupan berbangsa dan bernegara.
            Dari sekelumit penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam pencapaian Indonesia menjadi sebuah bangsa yang merdeka, bukanlah hal yang begitu saja terjadi dengan sendirinya, tetapi merupakan perjuangan yang tidak mudah, nilai-nilai kebersamaan dan semangat untuk memperbaiki nasib telah timbul dalam diri masyarakat Indonesia yang beragam, terlihat pula dalam perkembangannya sebagai negara merdeka, dimana pola politik dan ekonominya benar-benar disusun dan dipikirkan secara baik dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat, Indonesia pada masa itu benar-benar memiliki ‘koordinat’ yang jelas dalam bersikap. Walaupun tentu saja, dalam jalannya pemerintahan selanjutnya, kepentingan-kepentingan terselubung, dan keegoisan segelintir orang, membuat ‘atmosfer’ Indonesia menjadi terguncang dan tidak lagi mempunyai ‘koordinat’ yang jelas.                      
            Setelah menyusuri makna dari Budaya strategis dan menilik berbagai aspek rekam jejak ‘atmosfer’ Indonesia dalam sejarahnya, penulis berpendapat bahwa terdapat suatu budaya strategis yang Paling Indonesia, Apabila budaya strategis ini ditilik dari makna yang dikemukakan dalam tesis Melanie Graham seperti yang telah dipaparkan diatas, berarti Indonesia’s Strategic Culture itu “Ada” dalam setiap aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, baik politik, ekonomi, sosial, dan lainnya, yang menuntun kepada kemanfaatan serta memiliki ‘semangat’menuju arah pergerakan yang lebih baik dari sebelumnya.
Lantas, apakah yang menjadi representasi dari semuanya itu? Bila dicari yang khas , Pancasila merupakan contoh yang ‘pas’ dalam representasi budaya stategis, selain hanya dimiliki oleh Indonesia. nilai-nilai dasar Pancasila merangkum seluruh kebaikan untuk rakyat Indonesia. Pancasila merupakan budaya dan pembudayaan bangsa Indonesia yang perlu dipahami secara ilmiah oleh bangsa Indonesia,[5] Budaya yang dimaksud meliputi ilmu pengetahuan, tradisi, filsafat, kesenian dan hal hal lain yang dihasilkan oleh manusia Indonesia dalam buku-buku karangan mereka atau sarana yang lainnya sejak tahun 400 M. dalam pimpinan kerajaan-kerajaan, mulai dari Kutai, Sriwijaya, Mataram dan kemudian rakyat yang disatukan dalam pemerintahan birokratis Belanda sampai meraih kemerdekaannya pada tahun 1945. Dalam budaya-budaya tersebut tersimpan nilai-nilai pancasila yang kemudian dirumuskan menjadi pancasila secara formal yang kemudian dijadikan dasar falsafah dan Ideologi Negara Republik Indonesia. [6]
Setelah berbagai penjelasan dan keterangan yang telah disampaikan diatas, Pancasila memang merupakan contoh yang ‘pas’ dalam merepresentasikan suatu budaya strategis yang Paling Indonesia. Walaupun begitu budaya strategis tersebut tidak hanya berhenti untuk “dimiliki” saja tetapi juga harus diterapkan dalam setiap aspek bebangsa dan bernegara. Bagi bangsa Indonesia, Pancasila adalah jati diri yang harus dituju dalam proses pembangunan budaya bangsa, sebagaimana yang dikatakan oleh W.R.Soepratman bahwa budaya bangsa adalah jiwa bangsa yaitu tatanan masyarakat/bangsa yang "religius, apresiatif terhadap nilai kemanusiaan, nasionalis, demokratis, adil dan makmur".


Sumber:

Bowen, John R, (1986) On The Political Construction of Tradition: Gotong Royong in Indonesia” dalam Journal of Asean Studies vol XLV, no 3 p.545-559. 

Graham, Melanie (1996) Defining Strategic Culture, University of Columbia dalam  http://mywrdwrx.com/Defining%20Strategic%20Culture%20MA%20Thesis%20Graham%20April%2010%202011.pdf

Higgin, Benjamin, (1958) ”Hatta and Co-operatives; The middle way for Indonesia” Annals of the American Academy and Political Social Science vol.318, Asia and Future world Leadership,  p.49-57

Suwarno, 1993 Pancasila Budaya Bangsa Indonesia : Penelitian Pancasila dengan Pendekatan  Historis, Filosofis. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Wahid ,Abdurrahman (1981), Nilai-nilai Indonesia: Apakah Keberadaannya Kini ?, Majalah Prisma, No 11, Th.X p. 3-8

Wahid , Abdurrahman, (2001) Indonesia Mild Secularism, SAIS review, vol XXI no2 p.25-28



[1]  Melanie Graham, 1996 dalam Defining Strategic Culture, University of Columbia
[2] Abdurrahman Wahid , 1981, Nilai-nilai Indonesia: Apakah keberadaannya kini?, Majalah Prisma, No 11, Th.X 1981   p.6.
[3] Benjamin Higgin , 1958 ”Hatta and Co-operatives; The middle way for Indonesia” Annals of t he American Academy and Political Social Science vol.318, Asia and Future world Leadership, p.52.
[4] Abdurrahman Wahid, Indonesia Mild Secularism, SAIS review, vol XXI no2 p.27.
[5] Suwarno, 1993, Pancasila Budaya Bangsa Indonesia : Penelitian Pancasila dengan Pendekatan  Historis, Filosofis. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.  p.5
[6] Ibid., p.6     


Tulisan ini dibuat dalam mengikuti Lomba Blog Paling Indonesia Komunitas Blogger Makassar, AngingMammiri.org bekerjasama dengan Telkomsel :D


Paragraf Pertama
Semua Paragrap yang di sembunyikan