27.7.10

Saatnya Hang Out di Perpustakaan

ini, pas ada lomba nulis tentang perpustakaan di Unairr... iseng aja ikut....,
hehe
yah walau akhirnya kagak menang, tapi aku seneng banget, coz dapet sertifikat n hadiah hiburan, apa cobak hadiahnya pemirsaaaaa?
Majalah National Gegraphic =D

plis enjoyy.....



Saatnya Hang Out di Perpustakaan !!

Oleh : Tsabita Shabrina*


Perpustakaan selalu diidentikkan dengan tempat yang sepi, penuh buku, berdebu, suram dan hanya cocok untuk orang orang kuper, kutu buku dan ga gaul. Apalagi, Perpustakaan Perguruan Tinggi yang berhadapan dengan kebutuhan untuk proses belajar mengajar, pengabdian masyarakat, skripsi, tesis, penelitian dan berbagai hal yang cenderung serius, menjadikan perpustakaan menjadi pilihan terakhir untuk menghabiskan waktu senggang dan beranggapan Hang Out di Perpustakaan adalah ide yang buruk.

People move, Ideas move, and everything is Changing

Berkembangnya teknologi khususnya internet memang membuat citra perpustakaan tak lagi hanya sekedar tempat baca dan pinjam buku, tetapi banyak perpustakaan yang telah dilengkapi dengan fasilitas Wifi Area yang memudahkan pengguna dalam mendapatkan informasi. Dengan jelas terlihat bahwa layanan internet public library menjadi favorit pengunjung perpustakaan dari pada membaca di ruang baca buku. Seperti dalam perpustakaan kampus B Universitas Airlangga sendiri, dimana Ruang Publik lantai satu selalu ramai dengan pengunjung, yang entah mencari informasi, mengerjakan tugas, ber facebook ria atau malah main games, sedangkan lantai 2 dan 3 sepi pengunjung. Kondisi ini, semakin menguatkan fakta yang menunjukkan bahwa budaya membaca Indonesia tergolong rendah. Memang, Surfing internet masih dapat dimasukkan sebagai sarana membaca. Hanya saja apa yang dilihat bukan hanya tulisan, tetapi hal-hal visual lainnya yang kadangkala kurang tepat untuk di konsumsi, dan juga semua informasi yang ada tidak semuanya aktual dan dapat dipercaya. Jadi, walaupun saat ini teknologi berkembang dengan pesat, kita tidak boleh melupakan buku sebagai gudangnya ilmu.

Oleh karena itu Perpustakaan Universitas Airlangga, perlu melakukan suatu perubahan untuk menjadikan Perpustakaan sebagai tempat yang menarik dan nyaman, sehingga perpustakaan tidak hanya sebagai sarana ngadem dari panasnya kota Surabaya ataupun ngenet gratis tetapi juga tempat membaca yang membuat betah siapapun yang mengunjunginya. Jadi, menurut saya, hal yang perlu dicermati adalah masalah perubahan interior dan suasana dalam perpustakaan. Sekarang adalah saatnya meninjau ulang budaya perpustakaan yang harus sunyi senyap dan serius.

Old Pattern, Modification or New Way

Perpustakaan, Selain menyediakan berbagai macam variasi buku yang lengkap, harus didukung dengan tempat dan suasananya nyaman, sama halnya dengan otak, bila otak merasa tidak nyaman, maka otak tidak akan bekerja secara maksimal. Dalam hal interior, fokusnya adalah daerah tangga dan lorong lantai 2 dan 3 yang terkesan gelap dan suram, maka alangkah baiknya bila daerah tersebut diberi beberapa sentuhan artistik, seperti pemilihan warna cat yang lembut cerah sehingga memberi kesan fresh dan membuat ruangan tampak lebih luas. Apalagi, ditambah beberapa hiasan dinding, lukisan atau informasi – informasi bertema berbeda di setiap sudutnya, misalnya tentang Dunia Global atau Wawasan Nusantara. Suasana akan bertambah teduh lagi apabila ada beberapa tanaman plastik dan akuarium dengan air yang biru dan ikan yang berwarna warni, Sehingga secara tidak langsung Perpustakaan menjadi tempat pameran dan hiburan yang menarik dan menambah pengetahuan.
Selain suasana yang nyaman, kondisi perut juga menjadi salah satu faktor penyemangat belajar dan membaca, berdiskusi pun jadi berjalan tak mulus tanpa supply makanan yang memadai dan terjangkau. Peraturan tidak boleh membawa makanan atau minuman saat berada di ruang baca atas, saya rasa agak memberatkan, terlihat ketika beberapa mahasiswa, termasuk saya dan teman-teman terkadang diam diam membawa makanan ke lantai 3, karena memang beberapa orang menjadi lapar ketika membaca atau malah tidak bisa konsentrasi tanpa ngemil.
Bisa dimengerti, bahwa peraturan tersebut dibuat agar resiko buku dan karpet (ruangan) menjadi kotor dapat dihindari. Sebenarnya, dari awal, muncul angan-angan bagaimana apabila perpustakaan Universitas Airlangga menerapkan konsep Library Cafe yang menarik orang untuk datang dan merasa nyaman. tetapi tentu mewujudkannya tidak gampang dan penuh resiko, walaupun begitu, konsep tersebut mungkin bisa di konsep lebih mendalam, dipertimbangkan dan mungkin direalisasikan nantinya.
Mungkin, untuk sementara ini, untuk mengakomodasi peraturan tersebut, penambahan kantin mini sangat diperlukan, jadi apabila perut keroncongan saat di lantai 2 atau 3, pengunjung tidak perlu jauh-jauh turun kelantai satu, apalagi di lantai 3 terdapat studio Parlinah Moedjono tempat program nonton gratis CINEMAX diputar, Kurang afdol rasanya, bila nonton film tanpa camilan. Selain memudahkan mahasiswa, hal ini juga bisa menciptakan kesempatan kerja.
Paragraf Pertama

Selain itu, perpustakaan Universitas Airlangga juga harus mempunyai nilai Plus lain, yaitu dengan menjadikannya sebagai Green Library, Dengan menyediakan tong sampah basah dan kering yang dibedakan warnanya plus info tentang jenis-jenis sampah, atau lebih baik mengkhususkan plastik (botol atau gelas air mineral) dan kertas dan bekerjasama dengan agen daur ulang sampah. Selain itu juga dengan mematikan lampu yang dianggap tidak perlu ketika siang hari, karena menurut saya pencahayaan di perpustakaan sudah cukup bagus. Hal ini dapat menambah dan mempraktekkan pengetahuan tentang lingkungan sehingga kita tidak hanya bisa teorinya saja, tetapi juga mengimplementasikannya dalam hal nyata.

Karena saya berasal dari kampus B, maka hal hal diatas ditulis berdasarkan pengalaman dan unek-unek saya dan beberapa teman saat di perpustakaan kampus B Universitas Airlangga, tetapi tidak menutup kemungkinan beberapa hal dapat di implementasikan pada Perpustakaan kampus A atau C Universitas Airlangga.


Hang Out? tidak hanya di Mall


Budaya Hang Out sangat dekat dengan kehidupan pemuda masa kini, walau tidak semua, budaya ini dekat dengan kesan negatif bagi pemuda, dan merubah budaya adalah suatu hal yang tidak mudah, tetapi dapat disiasati dengan menawarkan format lama dengan cara baru. Dengan tulisan ini, harapan saya suatu saat, hang out bukan hanya di Mall atau Cafe, yang cenderung menjadikan pribadi menjadi hedonis dan konsumtif. Perpustakaan hadir menjadi alternatif Hang Out Positif masa kini, Khususnya perpustakaan Universitas Airlangga yang bukan perpustakaan biasa, tetapi menawarkan banyak nilai plus didalamnya yang membuat pengunjung tertarik datang, merasa betah dan nyaman. sehingga dapat memberi manfaat secara maksimal kepada masyarakat pada umumnya dan mahasiswa pada khususnya.










*Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Departemen Hubungan Internasional
070912057 Semua Paragrap yang di sembunyikan

26.7.10

yang dikirim ke surat pembaca jawa pos

Ditipu Biro Perjalalan “Wahyu Putra” di Terminal Terboyo Semarang


Pada hari Kamis, 22 Juli 2010 lalu, jam 1 siang saya dan teman saya berencana pulang dari Semarang menuju Surabaya dengan menggunakan bus, pada awalnya kami berniat memakai bus AC PATAS mengingat perjalanan yang akan ditempuh mencapai 7 jam lebih, tentunya kami menginginkan perjalanan yang nyaman dan cepat. Tetapi, sesampainya disana kami tidak menemukan bus PATAS yang AC, jadi kami bertanya pada salah satu –orang terminal- yang akhirnya menggiring kami ke salah satu kantor yang disebutnya spesialis bus. Dengan sigap dan cepat kami ditawarkan harga bus yang tidak wajar 90.000 rupiah untuk AC dan 70.000 untuk yang biasa, pada awalnya kami ingin menolak, karena menurut kami harga tersebut terlalu mahal, tapi setelah “spesialis bus’ tersebut menegaskan bahwa hanya itu bus yang berangkat jam ini, kami iyakan saja karena kami tak bisa nunggu yang selanjutnya agar sampai di Surabaya tidak terlalu malam, karena budget kami yang tidak mendukung maka kami memilih bus biasa, setelah membayar , kami di beri karcis bertuliskan -“ Biro Jasa Perjalanan Wahyu Putra” Terminal Induk Terboyo Blok D no 15,16,18 Semarang, (024) 6590438 - yang bersetempel lunas, tapi anehnya, kami tidak langsung diperbolehkan naik bis yang dimaksud, kami dimalah di suruh menunggu di kantor, setelah beberapa menit kami di panggil untuk segera menaiki bus, dan ternyata kami di giring menuju bus yang ‘keadaannya’ jauh dari harga yang kami bayar, (jelek , kotor, minim fasilitas dan membiarkan pedagang masuk) kami baru sadar kalau kami tertipu saat berdesakan dengan penumpang yang lainnya, tapi kami sepakat tidak kembali untuk menuntut karena bis sudah akan berjalan, dan kami akan terlambat sampai ke Surabaya kalu memutuskan kembali untuk menuntut, trik yang mereka pakai pintar sekali, menyuruh kami menunnggu agar tak melihat kondisi bus yang disipakan dan naik ketika bis akan berangkat sehingga membuat kami berpikir ulang untuk kembali. Kami semakin gregetan saat penumpang lain ditarik ongkos saat di atas bus yang sebenarnya bisa kami bayar dengan harga 40.000 , walau selisihnya ‘hanya’ 30.000, tapi bener2 membuat kami sakit hati, kami mmenyesal karena terlalu polos dan terlalu percaya dengan orang lain, entah mengapa kami pasrah saat itu, sebenarnya ingin rasanya ‘nonjok’ kernet yang pasti bersekongkol karena mereka tidak menarik kami karcis, malas rasanya, kami cuman diam saja dan menatap dingin gerombolan kernet tersebut. ya sudahlah, kami hanya menyampaikan pada pihak terkait, kok tega sih ngasih keluarga mereka duit haram, bukannya sok, tapi berseru kepada kebaikan itu perlu, dan kami harap agar calon penumpang berhati-hati, semoga kejadian ini tidak terjadi pada anda.

Maaf kepanjangan, tolong di edit lagi dan di persingkat, sebel saya soalnya

Tsabita
Surabaya
Paragraf Pertama
Semua Paragrap yang di sembunyikan

15.7.10

Goes to Cobannn , part 1 (bapak koalisi 5 partai)

1st Episode
Goes to Coban , oentoek jang kesekian kalinja. . .
(Bapak koalisi 5 partai)


Salam ciyeeeeeeeeeeh.

Senin pagi, jadwalnya anak HI 2009 SEHAT akan melangsungkan survey untuk kemantaban acara IR FEST (baca: ospek jurusan buat maba ) yang kalau dipanjangkan jadi International Relation Fun Educative , ST nya apaan ya ? yo ngunu lah pokoe, hehe, koordinator survey ke Coban Rondo kali ini adalah teman kami yang bernama Gumilar Rahadyan yang biasa di panggil Handi, ok, Handi sudah mengatur jadwal bahwa keberangkatan kami akan dilangsungkan jam 8 tepat, dan parahnya saudara-saudara , saya Tsabita Shabrina, barusan berangkat dari Gresik jam setengah tujuh, bayangkan dengan berangkot paling ga butuh waktu hampir 2 jam buat sampe ke surabaya, ya , tapi bukan bita namanya klo ga santai, hahahaha

jam 8 kurang 10 , sms dari si ochik meraung meminta aku segera nyampe ke Galeri HI, ya tapi sepertinya akan mustahil terjadi kala itu, karena si angkot yang berjalan luambat, ya suda aku putusin naek kreta sendiri aja ke Malang , dan keputusanku semakin mendapat dukungan ketika ada sms dari si maygy yang mengabarkan bahwa dia tertinggal kereta subuh dari kertosono, so, dia harus naik bus yang bakal sampe sby jam 10, padahal klo dia pake kereta subuh, jam 7 pagi da nyampe di sby, yup, inti dari sms itu adalah aku suruh nunggu si maygy sampe datang ke surabaya, soalnya dia ga tau kota Malang. Dan..., Okelah, akhirnya temen-temen yang lain berangkat dulu jam 8 dengan konvoi motor, beberapa mobil dan 1 buah bison , sekitar 45 orang dari 80 orang temen-temen HI yang ikut, dan aku baru nyampe sby, jam setengah sembilan, dan nunggu maygy sampe jam 10.

Aku dan Maygy, jajnjian ketemu di Stasiun, aku berangkat terlebih dahulu, tentu saja berjalan dari kosan ku ke stasiun, sekitar 15 menit, melewati belakang kampung gubeng Airlangga dan menyusuri pasar, terlihat bapak-bapak yang ’njemur’ merpati nya, ibu-ibu yang nyuapin anaknya.., ibu-ibu yang belanja, ibu-ibu yang nyisir rambut anaknya, mmm.. ’’Mother, How Are you Today???” tiba-tiba aku teringat ibuku. Suasana mellow seketika.

Aku sampai di Stasiun, setelah membeli tiket aku masuk kedalam dan menunggu kereta di depan pintu deretan toko, akupun berselonjor ria di lantai karena tempat duduk yang disediakan sudah full terisi, sesaat pandanganku memutari area stasiun gubeng, bangunannya keren juga pikirku, pintu yang melengkung, bata merah, tiang –tiangnya, lawas dan artistik, wah gue bangett...,

”Mbak.. permisi,, ”

punggungku terasa terdorong sesuatu
Aku pun menoleh kebelakang,, wah, ternyata aku duduk di depan pintu toko yang kukira tutup, ada orang toh didalamnya, aku segera beranjak dan membalas kata permisi dari mas-mas tadi seperti biasa dengan senyum GJ.
Setelah tempat yang kusinggahi terasa PW (baca: Posisi Wenakk) aku ngeluarin majalah ”Reader Digest” keluaran tahun 1986 yang kubeli 2 tahun lalu saat SMA, majalah itu English Edition, aku membeli karena sugesti dari guru les bhs. Inggrisku di IDP dulu, Pak Firdaus namanya, yang sering nyuruh aku baca salah satu issuenya dan menceritakan kembali dengan bahasa inggris. Mengapa tahun 1986? Karena aku membelinya di toko buku bekas, kalau di Malang dulu, di daerah WILIS, mengapa bekas ? Karena bila membeli baru mahal 28.000 rupiah, klo yang bekas sepuluh ribu, bisa dapet tiga (tentunya setelah rayuan maut dilancarkan pada abang penjualnya, hehe) aku pernah sekali beli yang baru, tapi selanjutnya aku numpang baca aja di Gramedia, mumpung majalah itu ga ada segelnya,, thanks for Gramediaa hehehehe

Masih sekitar 20 menit lagi kereta datang, aku masih asik dengan reader digestku,belum satu halaman terbaca, ada sms dari misbah, sohibku di MAN 3 yang sekarang kuliah di FIA UB,

”bitttt, udah UAS ? ”

akhirnya waktu yang tersisa itu pun terisi dengan ber sms-an ria, salah satu berita yang di bawa si misbah adalah perihal muwaddah yang diadain lusa, wahh, boleh tuh, mugkin dari coban aku ke malang aja, ga usa ikut arek-arek balik ke sby buat lihat Muwaddaah, ok, muwaddaah itu semacam wisudanya anak anak ASRAMA, so, apa yang spesial dari muwaddaah? Pada malam itu Gedung Aula akan disulap jadi tempat yang lain, Penuh hiasan dan dekorasi, Saat aku kelas satu misalnya tema muwaddaah adalah ’ Heaven of Love” jadi aula diubah jadi kaya taman surga gitu ada tumbuhan rambat, kolam, air terjun dan lain sebagainya. Kelas dua, bertema ” Babylonia in Euphoria” yang menyajikan Babylonia abad pertengahan dengan taman gantung dan bangunan uniknya. Kelas tiga, saat aku yang di wisuda, temanya adalah ” Sugar Land” Aula jadi penuh hiasan berbentuk donat, ice cream, kembang gula dan banyak lagi,,

” Bitttt, Angkotnya jalannya kaya ulet, lama bangetttt”
kali ini sms maygi menginterupsi, Oh My God..., aku baru nyadar, kabar baik klo kereta 5 menit lagi akan datang, dan kabar buruknya Maygi masih di Angkot. .

aku pun membalas
”Nyampe mana?
Turun Meg, Lari, kereta 5 menit lagi, gak lucu klo kamu gak jadi survey lagi, gara-gara ketinggalan kereta, Run Megggg Runnn !!!! ”

Tak lama kemudian, terdengar pengumuman

”ting tung ting tung”
” Kereta Penataran tujuan Malang, akan segera datang, para penumpang di harapkan bersiap-siap di jalur dua”

oh my God..... Aku mulai cemas, aku telpon si maygy, ga di jawab, waduhh bingung aku kala itu,
Gak lama berselang maygy sms lagi,

” bitt, ke depaan dongg, ke tempat beli tiket, uangku seratus ribu nh, ga ada kembalinya, pinjem dulu. ., cpt..”

Oh maaaaan, aku pun berlari ke depan, telpon dari si maygy meraung-raung, aku tak peduli, aku tetap berlari dengan dihujani tatapan mata dari segenap pengunjung stasiun, ” tuuuutttt... tuuuuutttttt” dan kereta pun datang, semakin ku percepat lariku, seakan aku akan melakukan penyelamatan heroik, beruntung di jaketku sudah tersedia 4 lembar ribuan dan recehan limaratus perak, maygy sudah panik di depan,,
Dan akhirnya uang itu berhasil diterima si maygy, dan tiket kereta ekonomi yang keramat itu pun sudah ditangannya. Dan... oh no, itu berarti aku akan berlari kembali ke jalur satu, kita pun berlari mengejar kereta, aku berlari sambil mengomeli si maygy atas ’’perbuatannya” yang mengubahku seketika jadi atlet lari.

Beruntung, setelah kami menginjakkan kaki di kereta, keretapun berangkat, nafas kami tercekat, tersenggal-senggal, untung kereta tak begitu ramai,, dengan mudahnya kami mendapat tempat duduk. . . , Belum semua omelanku pada si maygy terlontarkan, maygy sudah mendahuluinya dengan ceritanya yang tragis, dari ketinggalan kereta, yang berakibat dia harus naik bus, bus yang lemot, sempet mogok dan terancam di oper ke bus lain pula, turun naik angkot dari terminal bungurasih ke kosannya ditambah dengan ketidakberpihakan cuaca yang panas mengganas.
Ya sudahlahhh,, aku mendengar sambil meluapkan perasaanku hari ini di tembok facebook.

Kereta terasa cepat sekali, pada stasiun Wonokromo seorang bapak-bapak berpakaian rapi, tiba-tiba duduk di depan kami. Kami hanya senyum dan menjawab seadanya waktu beliau menanyakan kami mau kemana, dari mana, kuliah dimana dan semester berapa, memang, tak ada niatan sama sekali untuk ngajakin ngobrol sang bapak, kami capek, dan sibuk, sibuk dengan hape di tangan masing-masing, kombinasi yang apik antara fesbukan dan sms-an membuat bapak di depan kami tercampakkan. Seketika teringat kata-kata Mas Joko, dosen mata kuliah Studi Strategis Indonesia dan Pengantar Globalisasi, iya, bener guys, dia Dosen, tapi masih ’agak muda’ jadinya manggilnya mas, Beliau pernah berkata, kira-kira begini , kira kira lho guys...

” Globalisasi dan Teknologi itu memudahkan, tapi men’dzolim’i hubungan sosial ... ”
(aku ngangguk-ngangguk)

”Banyak sekali contoh yang menarik, ini asli dari pengalaman bapak saya sendiri..”
(aku semakin ngangguk-ngangguk)

” Dulu, bapak saya kalau naik kereta, hampir setengah gerbong beliau kenal... ”
(waduhhh, gileee, setengah gerbong? Kali ini saya geleng-geleng,, takjub, walau sebenarnya merasa mulai mucul ke’lebay’an yang terdeteksi dalam ceritanya )

” itu karena memang tak ada hal yang bisa dilakukan dalam kereta kecuali berkenalan dan mengobrol dengan sesama penumpang.., dan apa yang terjadi pada masa sekarang??”

” semua sibuk dengan gadget di tangannya, bahkan yang duduk bersebelahan dan yang didepannya, belum tentu bisa menjadi kenal”

Well, i hear it ,, then i remember, i experience it, then i understand. . .
Benar sekali guys, penjelasan mas joko tersebut mewakili keadaanku kala itu di kereta. .
Paragraf Pertama

Teringat akan petuah mas Joko, Aku pun memasukkan hapeku ke dalam tas, dan mulai mengomentari hal-hal yang kulihat dari jendela kereta, Kereta pun hampir sampai di daerah semburan Lumpur Lapindo, lumpur yang muncrat tersebut belum juga terhenti sejak aku lulus kelas tiga SMP sampai sekarang,,

” Meg, aku pingin lo, liat lumpur LAPINDO dari dekat, aku belum pernah naik kesana”
Sambil menunjukkan jariku ke arah atas tanggul
” Aku juga pengen, ayok kapan-kapan yokk” Maygy menimpali

Bapak berpakaian perlente dan bersepatu rapi itu pun segera menimpali, Aku menerka beliau cukup well-educated, terlihat dari aura nya saat bertanya pada kami di awal tadi dan gaya bicaranya yang banyak memakai istilah-istilah yang tidak awam, (sok nyaaa akuuu, =p ) Pakaian Rapi, Membawa tas, semacam tas kerja, dan tampak di jaket hitamnya tersulam rapi tulisan ” KOALISI 5 PARTAI” bla bla bla, ada beberpa partai yang tertulis tapi sayangnya, aku lupa apa saja, beliau langsung saja memberitahu kami bagaimana caranya untuk sampai ke atas Tanggul tersebut bila dari surabaya, bila naik motor langsung saja, bial naik kereta dari surabaya kami bisa turun stasiun Tanggulangin dan berojek sampai tanggul yang sbelah kiri, serta posisi-posisi strategs tempat munculnya semburan. Tak berhenti sampai di situ saja, Bapak ini menceritakan bagaiman keadaan pengungsi – pengungsi yang masih ada di Pasar, yang tidak punya surat-surat lengkap agar ganti rugi rumahnya yang tenggelam bisa terbayar, dan tiba-tiba belok menceritakan Marsinah, pejuang Kaum Buruh yang ”di duga” di bunuh pada jaman ORBA yang pabriknya ikut tenggelam, Anggaran LAPINDO yang terbuang sia-sia, karena proyek pembuntuan sumber lumpur dengan bola-bola beton yang gagal tetapi tetap diteruskan saja, dan yang paling memilukan adalah dampak psikologis yang di derita oleh para pengungsi.

Mungkin kala itu kami tak sadar, bahwa kami benar-benar terperangah oleh cerita-cerita si Bapak ini, belum sempat kami bertanya-tanya tentang banyak hal dibalik LUMPUR LAPINDO, bahkan belum sempat kami tanya siapakah nama dan pekerjaan si Bapak ini, beliau mengakhiri ceritanya dengan

” Wah, Sudah Stasiun Porong, Maaf, saya berhenti disini !!!”
Kami hanya tetegun, tak berkata apa-apa
Setelah itu, si Bapak ini berdiri dan berkata

” Well, Can We Meet Again ?”
seraya melambaikan tangannya dan berlalu
Sekali lagi, kami tak menjawab hanya membalas dengan senyuman penyesalan,

YA, Kami menyesal melewatkan kesempatan emas untuk mendapatkan asupan pengetahuan yang langka dengan gratis.
Setelah bapak itu pergi, kami mengutuki diri kami masing-masing, Kenapa kami tak menanggapi bapak itu secara serius sejak awal tadi ? sejak bapak itu terlihat exited saat mengetahui kami dari UNAIR, FISIP dan kembali begitu exited saat tau kita dari HI, Seandainyaaa.... , hmmm, sekali lagi..., Ya Sudahlahhh.. ..., belajar dari pengalaman ya bittt

”Mr. Koalisi 5 partai, Can we meet again?? “
To be Continued . . .,

Semua Paragrap yang di sembunyikan