15.7.10

Goes to Cobannn , part 1 (bapak koalisi 5 partai)

1st Episode
Goes to Coban , oentoek jang kesekian kalinja. . .
(Bapak koalisi 5 partai)


Salam ciyeeeeeeeeeeh.

Senin pagi, jadwalnya anak HI 2009 SEHAT akan melangsungkan survey untuk kemantaban acara IR FEST (baca: ospek jurusan buat maba ) yang kalau dipanjangkan jadi International Relation Fun Educative , ST nya apaan ya ? yo ngunu lah pokoe, hehe, koordinator survey ke Coban Rondo kali ini adalah teman kami yang bernama Gumilar Rahadyan yang biasa di panggil Handi, ok, Handi sudah mengatur jadwal bahwa keberangkatan kami akan dilangsungkan jam 8 tepat, dan parahnya saudara-saudara , saya Tsabita Shabrina, barusan berangkat dari Gresik jam setengah tujuh, bayangkan dengan berangkot paling ga butuh waktu hampir 2 jam buat sampe ke surabaya, ya , tapi bukan bita namanya klo ga santai, hahahaha

jam 8 kurang 10 , sms dari si ochik meraung meminta aku segera nyampe ke Galeri HI, ya tapi sepertinya akan mustahil terjadi kala itu, karena si angkot yang berjalan luambat, ya suda aku putusin naek kreta sendiri aja ke Malang , dan keputusanku semakin mendapat dukungan ketika ada sms dari si maygy yang mengabarkan bahwa dia tertinggal kereta subuh dari kertosono, so, dia harus naik bus yang bakal sampe sby jam 10, padahal klo dia pake kereta subuh, jam 7 pagi da nyampe di sby, yup, inti dari sms itu adalah aku suruh nunggu si maygy sampe datang ke surabaya, soalnya dia ga tau kota Malang. Dan..., Okelah, akhirnya temen-temen yang lain berangkat dulu jam 8 dengan konvoi motor, beberapa mobil dan 1 buah bison , sekitar 45 orang dari 80 orang temen-temen HI yang ikut, dan aku baru nyampe sby, jam setengah sembilan, dan nunggu maygy sampe jam 10.

Aku dan Maygy, jajnjian ketemu di Stasiun, aku berangkat terlebih dahulu, tentu saja berjalan dari kosan ku ke stasiun, sekitar 15 menit, melewati belakang kampung gubeng Airlangga dan menyusuri pasar, terlihat bapak-bapak yang ’njemur’ merpati nya, ibu-ibu yang nyuapin anaknya.., ibu-ibu yang belanja, ibu-ibu yang nyisir rambut anaknya, mmm.. ’’Mother, How Are you Today???” tiba-tiba aku teringat ibuku. Suasana mellow seketika.

Aku sampai di Stasiun, setelah membeli tiket aku masuk kedalam dan menunggu kereta di depan pintu deretan toko, akupun berselonjor ria di lantai karena tempat duduk yang disediakan sudah full terisi, sesaat pandanganku memutari area stasiun gubeng, bangunannya keren juga pikirku, pintu yang melengkung, bata merah, tiang –tiangnya, lawas dan artistik, wah gue bangett...,

”Mbak.. permisi,, ”

punggungku terasa terdorong sesuatu
Aku pun menoleh kebelakang,, wah, ternyata aku duduk di depan pintu toko yang kukira tutup, ada orang toh didalamnya, aku segera beranjak dan membalas kata permisi dari mas-mas tadi seperti biasa dengan senyum GJ.
Setelah tempat yang kusinggahi terasa PW (baca: Posisi Wenakk) aku ngeluarin majalah ”Reader Digest” keluaran tahun 1986 yang kubeli 2 tahun lalu saat SMA, majalah itu English Edition, aku membeli karena sugesti dari guru les bhs. Inggrisku di IDP dulu, Pak Firdaus namanya, yang sering nyuruh aku baca salah satu issuenya dan menceritakan kembali dengan bahasa inggris. Mengapa tahun 1986? Karena aku membelinya di toko buku bekas, kalau di Malang dulu, di daerah WILIS, mengapa bekas ? Karena bila membeli baru mahal 28.000 rupiah, klo yang bekas sepuluh ribu, bisa dapet tiga (tentunya setelah rayuan maut dilancarkan pada abang penjualnya, hehe) aku pernah sekali beli yang baru, tapi selanjutnya aku numpang baca aja di Gramedia, mumpung majalah itu ga ada segelnya,, thanks for Gramediaa hehehehe

Masih sekitar 20 menit lagi kereta datang, aku masih asik dengan reader digestku,belum satu halaman terbaca, ada sms dari misbah, sohibku di MAN 3 yang sekarang kuliah di FIA UB,

”bitttt, udah UAS ? ”

akhirnya waktu yang tersisa itu pun terisi dengan ber sms-an ria, salah satu berita yang di bawa si misbah adalah perihal muwaddah yang diadain lusa, wahh, boleh tuh, mugkin dari coban aku ke malang aja, ga usa ikut arek-arek balik ke sby buat lihat Muwaddaah, ok, muwaddaah itu semacam wisudanya anak anak ASRAMA, so, apa yang spesial dari muwaddaah? Pada malam itu Gedung Aula akan disulap jadi tempat yang lain, Penuh hiasan dan dekorasi, Saat aku kelas satu misalnya tema muwaddaah adalah ’ Heaven of Love” jadi aula diubah jadi kaya taman surga gitu ada tumbuhan rambat, kolam, air terjun dan lain sebagainya. Kelas dua, bertema ” Babylonia in Euphoria” yang menyajikan Babylonia abad pertengahan dengan taman gantung dan bangunan uniknya. Kelas tiga, saat aku yang di wisuda, temanya adalah ” Sugar Land” Aula jadi penuh hiasan berbentuk donat, ice cream, kembang gula dan banyak lagi,,

” Bitttt, Angkotnya jalannya kaya ulet, lama bangetttt”
kali ini sms maygi menginterupsi, Oh My God..., aku baru nyadar, kabar baik klo kereta 5 menit lagi akan datang, dan kabar buruknya Maygi masih di Angkot. .

aku pun membalas
”Nyampe mana?
Turun Meg, Lari, kereta 5 menit lagi, gak lucu klo kamu gak jadi survey lagi, gara-gara ketinggalan kereta, Run Megggg Runnn !!!! ”

Tak lama kemudian, terdengar pengumuman

”ting tung ting tung”
” Kereta Penataran tujuan Malang, akan segera datang, para penumpang di harapkan bersiap-siap di jalur dua”

oh my God..... Aku mulai cemas, aku telpon si maygy, ga di jawab, waduhh bingung aku kala itu,
Gak lama berselang maygy sms lagi,

” bitt, ke depaan dongg, ke tempat beli tiket, uangku seratus ribu nh, ga ada kembalinya, pinjem dulu. ., cpt..”

Oh maaaaan, aku pun berlari ke depan, telpon dari si maygy meraung-raung, aku tak peduli, aku tetap berlari dengan dihujani tatapan mata dari segenap pengunjung stasiun, ” tuuuutttt... tuuuuutttttt” dan kereta pun datang, semakin ku percepat lariku, seakan aku akan melakukan penyelamatan heroik, beruntung di jaketku sudah tersedia 4 lembar ribuan dan recehan limaratus perak, maygy sudah panik di depan,,
Dan akhirnya uang itu berhasil diterima si maygy, dan tiket kereta ekonomi yang keramat itu pun sudah ditangannya. Dan... oh no, itu berarti aku akan berlari kembali ke jalur satu, kita pun berlari mengejar kereta, aku berlari sambil mengomeli si maygy atas ’’perbuatannya” yang mengubahku seketika jadi atlet lari.

Beruntung, setelah kami menginjakkan kaki di kereta, keretapun berangkat, nafas kami tercekat, tersenggal-senggal, untung kereta tak begitu ramai,, dengan mudahnya kami mendapat tempat duduk. . . , Belum semua omelanku pada si maygy terlontarkan, maygy sudah mendahuluinya dengan ceritanya yang tragis, dari ketinggalan kereta, yang berakibat dia harus naik bus, bus yang lemot, sempet mogok dan terancam di oper ke bus lain pula, turun naik angkot dari terminal bungurasih ke kosannya ditambah dengan ketidakberpihakan cuaca yang panas mengganas.
Ya sudahlahhh,, aku mendengar sambil meluapkan perasaanku hari ini di tembok facebook.

Kereta terasa cepat sekali, pada stasiun Wonokromo seorang bapak-bapak berpakaian rapi, tiba-tiba duduk di depan kami. Kami hanya senyum dan menjawab seadanya waktu beliau menanyakan kami mau kemana, dari mana, kuliah dimana dan semester berapa, memang, tak ada niatan sama sekali untuk ngajakin ngobrol sang bapak, kami capek, dan sibuk, sibuk dengan hape di tangan masing-masing, kombinasi yang apik antara fesbukan dan sms-an membuat bapak di depan kami tercampakkan. Seketika teringat kata-kata Mas Joko, dosen mata kuliah Studi Strategis Indonesia dan Pengantar Globalisasi, iya, bener guys, dia Dosen, tapi masih ’agak muda’ jadinya manggilnya mas, Beliau pernah berkata, kira-kira begini , kira kira lho guys...

” Globalisasi dan Teknologi itu memudahkan, tapi men’dzolim’i hubungan sosial ... ”
(aku ngangguk-ngangguk)

”Banyak sekali contoh yang menarik, ini asli dari pengalaman bapak saya sendiri..”
(aku semakin ngangguk-ngangguk)

” Dulu, bapak saya kalau naik kereta, hampir setengah gerbong beliau kenal... ”
(waduhhh, gileee, setengah gerbong? Kali ini saya geleng-geleng,, takjub, walau sebenarnya merasa mulai mucul ke’lebay’an yang terdeteksi dalam ceritanya )

” itu karena memang tak ada hal yang bisa dilakukan dalam kereta kecuali berkenalan dan mengobrol dengan sesama penumpang.., dan apa yang terjadi pada masa sekarang??”

” semua sibuk dengan gadget di tangannya, bahkan yang duduk bersebelahan dan yang didepannya, belum tentu bisa menjadi kenal”

Well, i hear it ,, then i remember, i experience it, then i understand. . .
Benar sekali guys, penjelasan mas joko tersebut mewakili keadaanku kala itu di kereta. .
Paragraf Pertama

Teringat akan petuah mas Joko, Aku pun memasukkan hapeku ke dalam tas, dan mulai mengomentari hal-hal yang kulihat dari jendela kereta, Kereta pun hampir sampai di daerah semburan Lumpur Lapindo, lumpur yang muncrat tersebut belum juga terhenti sejak aku lulus kelas tiga SMP sampai sekarang,,

” Meg, aku pingin lo, liat lumpur LAPINDO dari dekat, aku belum pernah naik kesana”
Sambil menunjukkan jariku ke arah atas tanggul
” Aku juga pengen, ayok kapan-kapan yokk” Maygy menimpali

Bapak berpakaian perlente dan bersepatu rapi itu pun segera menimpali, Aku menerka beliau cukup well-educated, terlihat dari aura nya saat bertanya pada kami di awal tadi dan gaya bicaranya yang banyak memakai istilah-istilah yang tidak awam, (sok nyaaa akuuu, =p ) Pakaian Rapi, Membawa tas, semacam tas kerja, dan tampak di jaket hitamnya tersulam rapi tulisan ” KOALISI 5 PARTAI” bla bla bla, ada beberpa partai yang tertulis tapi sayangnya, aku lupa apa saja, beliau langsung saja memberitahu kami bagaimana caranya untuk sampai ke atas Tanggul tersebut bila dari surabaya, bila naik motor langsung saja, bial naik kereta dari surabaya kami bisa turun stasiun Tanggulangin dan berojek sampai tanggul yang sbelah kiri, serta posisi-posisi strategs tempat munculnya semburan. Tak berhenti sampai di situ saja, Bapak ini menceritakan bagaiman keadaan pengungsi – pengungsi yang masih ada di Pasar, yang tidak punya surat-surat lengkap agar ganti rugi rumahnya yang tenggelam bisa terbayar, dan tiba-tiba belok menceritakan Marsinah, pejuang Kaum Buruh yang ”di duga” di bunuh pada jaman ORBA yang pabriknya ikut tenggelam, Anggaran LAPINDO yang terbuang sia-sia, karena proyek pembuntuan sumber lumpur dengan bola-bola beton yang gagal tetapi tetap diteruskan saja, dan yang paling memilukan adalah dampak psikologis yang di derita oleh para pengungsi.

Mungkin kala itu kami tak sadar, bahwa kami benar-benar terperangah oleh cerita-cerita si Bapak ini, belum sempat kami bertanya-tanya tentang banyak hal dibalik LUMPUR LAPINDO, bahkan belum sempat kami tanya siapakah nama dan pekerjaan si Bapak ini, beliau mengakhiri ceritanya dengan

” Wah, Sudah Stasiun Porong, Maaf, saya berhenti disini !!!”
Kami hanya tetegun, tak berkata apa-apa
Setelah itu, si Bapak ini berdiri dan berkata

” Well, Can We Meet Again ?”
seraya melambaikan tangannya dan berlalu
Sekali lagi, kami tak menjawab hanya membalas dengan senyuman penyesalan,

YA, Kami menyesal melewatkan kesempatan emas untuk mendapatkan asupan pengetahuan yang langka dengan gratis.
Setelah bapak itu pergi, kami mengutuki diri kami masing-masing, Kenapa kami tak menanggapi bapak itu secara serius sejak awal tadi ? sejak bapak itu terlihat exited saat mengetahui kami dari UNAIR, FISIP dan kembali begitu exited saat tau kita dari HI, Seandainyaaa.... , hmmm, sekali lagi..., Ya Sudahlahhh.. ..., belajar dari pengalaman ya bittt

”Mr. Koalisi 5 partai, Can we meet again?? “
To be Continued . . .,

Semua Paragrap yang di sembunyikan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar