Tampilkan postingan dengan label lomba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lomba. Tampilkan semua postingan

24.6.13

Kesiapan Indonesia dalam Pusaran Komunitas Ekonomi ASEAN 2015

     Bulan kemarin saya ikutan kompetisi menulis oleh PCIM Rusia dengan tema Potret Indonesia tahun 2014 , iseng pingin ikut (hadiah utamanya ke rusia soalnya :p), maka lahirlah tulisan tentang AEC ini. Walaupun akhirnya ga masuk jajaran pemenang alhamdulillah dapet sertifikat hhhe.
 

suka alfabet rusianya :)))))

walau masih berantakan, semoga tulisan saya  bermanfaat :) 



Kesiapan Indonesia dalam Pusaran Komunitas Ekonomi ASEAN 2015
Oleh : Tsabita Shabrina

Kurang dari 2 tahun mendatang, Indonesia dan negara negara ASEAN lainnya akan memasuki suatu tahap perubahan dalam hal integrasi ekonomi regional melalui Asean Economic Comunity (AEC) atau Komunitas Ekonomi ASEAN. Pembentukan AEC merupakan salah satu dari 3 gagasan yang teruang didalam ASEAN Community yang telah digagas sejak KTT Informal ASEAN tahun 1997 dan direncanakan untuk mulai diimplementasikan tahun 2015 mendatang. Tujuan dari digagasnya AEC ini adalah dalam rangka peningkatan daya saing kawasan di pasar global, peningkatan pertumbuhan ekonomi dan standar hidup penduduk di negara-negara ASEAN. Indonesia merupakan salah satu negara yang berpengaruh di kawasan ASEAN, dan AEC merupakan momentum Indonesia dalam mengembangkan perekonomiannya, namun pada kenyataannya banyak pihak yang merasa bahwa Indonesia belum siap untuk menghadapi keterbukaan pasar dalam AEC tersebut.
Dalam Cetak Biru Asean Economic Community tersebut memuat karakteristik sebuah komunitas ekonomi dalam 4 pilar AEC, yaitu 1. Single Market and Production Base ; 2. Competitive Economic Region; 3. Equitable Economic Development; serta 4. Full Integration into Global Economy yang inti dari keempat pilar tersebut sebagaimana yang tersebut dalam Bali Concord II tahun 2003 adalah perluasan integrasi ekonomi ke semua negara anggota ASEAN dan membangun ASEAN sebagai sebuah pasar tunggal yang berbasiskan produksi dengan mendorong ASEAN menjadi lebih dinamis dan kompetitif dalam sektor barang, jasa, investasi, tenaga kerja ahli, dan modal.
Rencana Pelaksanaan Komunitas Ekonomi ASEAN ini, tidak hanya berbicara tentang hubungan ekonomi antarnegara yang lebih terbuka, karena pada dasarnya bukanlah negara yang punya hajat disini, tetapi masyarakat didalamnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa globalisasi telah mebuat batas-batas negara menjadi kabur (borderless), melalui AEC tersebut semua individu akan memiliki kesempatan yang sama untuk meraih sesuatu, untuk meningkatkan kesejahteraan hidup. Walaupun begitu terbukanya kesempatan tersebut tentunya tidak sertamerta tanpa tantangan yang apabila kita tidak bersiap dari sekarang, kesempatan tersebut akan terbuang sia-sia atau bahkan malah menimbulkan kerugian.
Tidak perlu menunggu hingga tahun 2015, 2014 atau bulan depan untuk mulai menyadari proses globalisasi ini. Pemerintah dan Masyarakat lebih baik untuk tidak terlalu terlena dengan euforia pemilu 2014 mendatang dan perlu untuk segera bersiap dan bertindak agar tidak hanya menerima kerugian dalam pengimplementasian AEC mendatang. Terdapat beberapa poin yang kiranya bisa dilakukan baik pemerintah dan masyarakat untuk persiapan AEC tersebut, yaitu Pemaksimalan Upaya Sosialisasi; Pengembangan Kapasitas Sumber Daya Manusia; dan Penyelesaian Permasalahan Internal.
Pertama, Pemaksimalan Upaya Sosialisasi, Tidak dapat dipungkiri bahwa pengetahuan masyarakat Indonesia terkait hajatan besar AEC ini belum merata. Bila dibandingkan dengan Thailand, Indonesia, sebagai salah satu kekuatan ASEAN benar-benar masih jauh dibelakang Thailand untuk masalah sosialisasi. Hal tersebutlah yang melatarbelakangi ditulisnya tulisan ini, yaitu ketika saya berkesempatan untuk melaksanakan magang selama sekitar 6 minggu di Thailand, atmosfir ASEAN dan AEC di Thailand sangatlah terasa. Pemerintah Thailand terlihat tak menganggap remeh pelaksanaan AEC, banyak sekali spanduk, umbul umbul dan papan-papan diberbagai fasilitas umum yang menginformasikan pelaksanaan AEC, media cetak dan televisi juga aktif mengabarkan berita ini melalui countdown yang dihitung mundur setiap harinya. Terkait pengedukasiannya, sosialisasi AEC juga dilakukan sejak dini dengan mengenalkan konsep ASEAN mulai dari taman kanak-kanak. Saya sendiri juga dibuat heran ketika beberapa kali bertemu penjual kaki lima dan penumpang lain di bus yang saya naiki selalu menanyakan tanggapan saya, sebagai warga negara Indonesia terkait pelaksanaan AEC.
Faktanya di Indonesia, beberapa pelaku ekonomi maupun akademisi pun bahkan masih banyak yang belum mengerti apakah ASEAN dan apa tujuannya. Maka dari itu, dalam waktu yang singkat seperti sekarang ini, sasaran sosialisasi yang krusial menurut saya adalah kepada pelaku ekonomi khususnya pengusaha kecil, kemudian mahasiswa dan pelajar yang akan memasuki masa kerja, kendati demikian pengenalan konsep ASEAN sejak dini juga perlu untuk diterapkan sesegera mungkin di Indonesia.
Kedua, Pengembangan Kapasitas Sumber Daya Manusia, Dengan kualitas SDM yang baik tentunya Indonesia bisa bersaing dengan tenaga kerja profesional asing lainnya. Pemerintah memang perlu membangun sarana dan prasarana dalam menunjang kegiatan ekonomi namun peningkatan kualitas SDM juga harus menjadi prioritas karena SDM tersebutlah yang nantinya akan mengelola jalannya perekonomian. Kemudian, penguasaan akan bahasa asing seperti bahasa Inggris, Arab dan Mandarin merupakan hal yang penting dalam komunikasi pada masyarakat internasional, kesulitan dalam memahami bahasa asing, terutama bahasa Inggris akan menyulitkan interaksi ekonomi antarnegra. Selain pengembangan skill dan bahasa, pengembangan networking akan memantapkan langkah masyarakat untuk mengenal dan beradaptasi dalam iklim yang kompetitif ini, pengembangan networking tersebut mungkin bisa dilakukan dengan mengadakan pertukaran pelajar ASEAN atau pertemuan pertemuan rutin antara seperti pengusaha kecil, investor dan pelaku ekonomi lainnya.
Ketiga, Penguatan Ekonomi Internal, Agar tidak tergerus aliran produk dari luar, pemerintah tentu perlu untuk mengembangankan dan memberdayaan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Indonesia, dengan memberikan informasi dan kemudahan untuk pengembangan produk mereka, seperti informasi terkait bagaimana memperoleh sertifikat halal atau pembelajaran untuk membuat label dan kemasan produk yang menarik. Poin yang penting adalah, pemerintah juga harus mempunyai kebijakan ekonomi yang dapat mendukung tenaga kerja dan pelaku, dunia usaha yang belum siap untuk menghadapi persaingan dalam AEC. Lebih jauh, Penguatan disini, bukan hanya pemberdayaan ekonomi lokal tetapi juga penyelesaian dan penuntasan peraturan –peraturan ekonomi. Pada dasarnya, bukan kapasitas saya dalam pemberian solusi secara detail terkait permasalahan ekonomi, namun dalam konteks AEC, banyak sekali pekerjaan yang harus di selesaikan pemerintah, seperti penyelesaian undang undang perburuhan, tenaga kerja, serta hal lain yang dalam perundang-undangannnya masih tumpang tindih. Jangan sampai nantinya Indonesia hanya bisa menguasai pasar buruh, sedangkan level profesional dan manajerialnya dikuasai oleh asing. Belum terlalu terlambat untuk memulai dari sekarang, apalagi dengan kemajuan teknologi komunikasi dan transportasi, upaya upaya tersebut bisa dengan cepat, mudah dan murah untuk dilaksanakan.
Pada dasarnya, poin yang paling penting adalah bagaimana kita sebagai masyarakat Indonesia secara umum dalam menyikapi proses perubahan tersebut. 2015 memang bukanlah masih lama datangnya, tetapi belum terlambat untuk memulainya sekarang, saatnya kita mempunyai inisiatif dan kesadaran diri untuk maju. Masyarakat Indonesia harus mulai membangun karakter manusia yang selalu berkeinginan untuk maju dan meningkatkan kualitas diri. Kendati demikian, kita juga tidak boleh terlalu sibuk berfokus pada peningkatan diri sendiri dan terlalu individualistik dengan mengabaikan lingkungan disekitar kita, namun tetap merangsang dan memberdayakan lingkungan tersebut dengan saling membantu dan gotong royong. Oleh karena itu, dalam menyongsong AEC yang penuh peluang sekaligus tantangan tersebut, maka kita hanya memiliki dua pilihan, yaitu terlambat untuk menyadari, terlambat beraksi dan menjadi tertinggal atau peduli mulai kini, menggali potensi, dan siap untuk memanfaatkan serta menghadapi tantangan globalisasi.




Paragraf Pertama
Semua Paragrap yang di sembunyikan

29.6.12

Pancasila sebagai Budaya Strategis yang Paling Indonesia


         Berbicara mengenai budaya Indonesia secara umum, sangatlah mudah ditemui dalam berbagai referensi. Segala aspek tentang kebudayaan Indonesia telah dirangkum dengan begitu rinci dan menarik, seperti dalam Ensiklopedia ataupun buku-buku budaya yang diajarkan di sekolah-sekolah, baik dengan media cetak maupun visual, dari yang diabadikan dalam museum-museum ataupun dalam sarana representatif lainnya. Tulisan ini kemudian mencoba menggali suatu bentuk budaya strategis diluar bentuk yang kasat mata seperti tarian, pakaian atau tradisi, tetapi lebih kepada budaya dalam pengertian suatu sistem yang paling melekat pada suatu masyarakat dalam sebuah negara, lebih spesifiknya yaitu tentang Budaya Strategis yang Paling Indonesia.  
            Pada dasarnya, Banyak sekali referensi yang menyebutkan makna ‘Budaya dan ‘Strategis secara parsial, tetapi tidak begitu banyak ulasan mendalam terkait apa itu budaya strategis. Salah satu pengertian budaya strategis yang melatar belakangi tulisan ini dikutip dari  Melanie Graham dalam Tesisnya bahwa
“ Strategic culture is that set of shared beliefs, assumptions, and modes of behavior, derived from common experiences and accepted narratives (both oral and written), that shape collective identity and relationships to other groups, and which determine appropriate ends and means for achieving security objectives.”” [1]
    Dalam pandangan tersebut, Strategic Culture secara sederhana dalam intrepretasi penulis merupakan  suatu ‘sistem’ tingkah laku, sikap dan kepercayaan yang melandasi dan membatasi suatu pemikiran dalam mempengaruhi arah pengambilan kebijakan. Maka dari itu dengan adanya strategic culture tersebut dapat diambil suatu manfaat  dan keuntungan dari pengembangan dan penerapannya sehingga dapat menunjang kepentingan nasional suatu negara, baik manfaat internal ataupun sebagai sarana penunjang keeksistensiannya dan tujuan suatu negara dalam kancah internasional.
      Sebelum membahas tentang konsep ‘strategic culture’ apa yang dimiliki negara Indonesia, maka akan lebih baik jika dipaparkan sejarah dan latar belakang Indonesia dalam beberapa aspek, Pertama adalah aspek perpolitikan. Pergerakan nasional Indonesia dalam upaya penyapaian kemerdekaan, dipelopori oleh kemunculan organisasi – organisasi dalam dua kelompok yang berbeda, yaitu ‘organisasi pemuda daerah’ dan ‘gerakan islam’, yang dalam perkembangannya, dikarenakan rasa saling membutuhkan, rasa saling memiliki dunia yang lebih luas dari dunia mereka sebelumnya, organisasi- organisasi tersebut yang awalnya hanya bersifat sebagai ikatan primordial berkembang menjadi sesuatu pencapaian solidaritas yang tidak hanya dibatasi oleh makna kedaerahan saja.[2] Selanjutnya, Pada masa setelah diraihnya kemerdekaan, yaitu pada Era Orde Lama ‘ Konsep politik luar negeri Indonesia yang “bebas aktif’, menunjukkan ke’netral’an yang dimiliki  bangsa Indonesia, tidak kekanan, maupun ke kiri , ditambah dengan keikutsertaannya dalam memprakarsai Gerakan Non Blok, Indonesia benar-benar dapat dinilai sebagai negara yang aktif dalam upaya perdamaian dunia saat itu. 
            Kedua, Pada Ranah Sosial - Ekonomi, Indonesia yang notabenenya (pernah) disebut sebagai negara agararis, mempunyai tradisi tolong- menolong dalam kehidupan bersama, mereka dengan suka rela membantu tetangga yang butuh bantuan dalam pengerjaan sawahnya, membantu memasang atap rumah atau memasak makanan untuk acara syukuran, semuanya di lakukan sukarela karena mereka tau tetangga yang dibantu kan melakukan hal yang sama saat mereka sendiri yang memerlukan bantuan. Kemudian, Dalam era pasca kemerdekaan, Bung Hatta secara brilian mengemukakan bahwa perekonomian nasional harus didasarkan dengan basis kooperasi. Pemimpin negara saat itu telah turut pula berjuang untuk mencantumkan pola ekonomi dalam Pasal 33 Undang Undang Dasar (UUD) 1945 , pasal 1,2 dan 3 yang kesemuanya menjamin kesejahteraan rakyat.[3] 
            Sementara itu, Budaya masyarakat Indonesia sendiri, terbalut dari bermacam-macam latar belakang yang membuat semakin beragamnya budaya dan tradisi masyarakat Indonesia. Untuk masalah kepercayaan, Indonesia merupakan negara yang menjunjung tinggi agama, Di Indonesia, Agama memegang peranan penting, lebih kepada ‘moral support’ daripada diartikan sebagai ideologi negara[4],dikarenakan keadaan Indonesia yang tidak hanya multi-ethnic, tetapi juga multi-religious, dengan begitu menjadi sulit untuk memilih satu agama yang menjadi dasar ideologi, sehingga, penulis disini setuju dengan ‘alternative’ dari Gus Dur diatas, bahwa agama bisa dijadikan sebagai ‘moral support’ bukan sebagai dasar ideologi negara. saat ini Indonesia mengakui enam agama juga berpengaruh dalam praktek kehidupan berbangsa dan bernegara.
            Dari sekelumit penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam pencapaian Indonesia menjadi sebuah bangsa yang merdeka, bukanlah hal yang begitu saja terjadi dengan sendirinya, tetapi merupakan perjuangan yang tidak mudah, nilai-nilai kebersamaan dan semangat untuk memperbaiki nasib telah timbul dalam diri masyarakat Indonesia yang beragam, terlihat pula dalam perkembangannya sebagai negara merdeka, dimana pola politik dan ekonominya benar-benar disusun dan dipikirkan secara baik dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat, Indonesia pada masa itu benar-benar memiliki ‘koordinat’ yang jelas dalam bersikap. Walaupun tentu saja, dalam jalannya pemerintahan selanjutnya, kepentingan-kepentingan terselubung, dan keegoisan segelintir orang, membuat ‘atmosfer’ Indonesia menjadi terguncang dan tidak lagi mempunyai ‘koordinat’ yang jelas.                      
            Setelah menyusuri makna dari Budaya strategis dan menilik berbagai aspek rekam jejak ‘atmosfer’ Indonesia dalam sejarahnya, penulis berpendapat bahwa terdapat suatu budaya strategis yang Paling Indonesia, Apabila budaya strategis ini ditilik dari makna yang dikemukakan dalam tesis Melanie Graham seperti yang telah dipaparkan diatas, berarti Indonesia’s Strategic Culture itu “Ada” dalam setiap aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, baik politik, ekonomi, sosial, dan lainnya, yang menuntun kepada kemanfaatan serta memiliki ‘semangat’menuju arah pergerakan yang lebih baik dari sebelumnya.
Lantas, apakah yang menjadi representasi dari semuanya itu? Bila dicari yang khas , Pancasila merupakan contoh yang ‘pas’ dalam representasi budaya stategis, selain hanya dimiliki oleh Indonesia. nilai-nilai dasar Pancasila merangkum seluruh kebaikan untuk rakyat Indonesia. Pancasila merupakan budaya dan pembudayaan bangsa Indonesia yang perlu dipahami secara ilmiah oleh bangsa Indonesia,[5] Budaya yang dimaksud meliputi ilmu pengetahuan, tradisi, filsafat, kesenian dan hal hal lain yang dihasilkan oleh manusia Indonesia dalam buku-buku karangan mereka atau sarana yang lainnya sejak tahun 400 M. dalam pimpinan kerajaan-kerajaan, mulai dari Kutai, Sriwijaya, Mataram dan kemudian rakyat yang disatukan dalam pemerintahan birokratis Belanda sampai meraih kemerdekaannya pada tahun 1945. Dalam budaya-budaya tersebut tersimpan nilai-nilai pancasila yang kemudian dirumuskan menjadi pancasila secara formal yang kemudian dijadikan dasar falsafah dan Ideologi Negara Republik Indonesia. [6]
Setelah berbagai penjelasan dan keterangan yang telah disampaikan diatas, Pancasila memang merupakan contoh yang ‘pas’ dalam merepresentasikan suatu budaya strategis yang Paling Indonesia. Walaupun begitu budaya strategis tersebut tidak hanya berhenti untuk “dimiliki” saja tetapi juga harus diterapkan dalam setiap aspek bebangsa dan bernegara. Bagi bangsa Indonesia, Pancasila adalah jati diri yang harus dituju dalam proses pembangunan budaya bangsa, sebagaimana yang dikatakan oleh W.R.Soepratman bahwa budaya bangsa adalah jiwa bangsa yaitu tatanan masyarakat/bangsa yang "religius, apresiatif terhadap nilai kemanusiaan, nasionalis, demokratis, adil dan makmur".


Sumber:

Bowen, John R, (1986) On The Political Construction of Tradition: Gotong Royong in Indonesia” dalam Journal of Asean Studies vol XLV, no 3 p.545-559. 

Graham, Melanie (1996) Defining Strategic Culture, University of Columbia dalam  http://mywrdwrx.com/Defining%20Strategic%20Culture%20MA%20Thesis%20Graham%20April%2010%202011.pdf

Higgin, Benjamin, (1958) ”Hatta and Co-operatives; The middle way for Indonesia” Annals of the American Academy and Political Social Science vol.318, Asia and Future world Leadership,  p.49-57

Suwarno, 1993 Pancasila Budaya Bangsa Indonesia : Penelitian Pancasila dengan Pendekatan  Historis, Filosofis. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Wahid ,Abdurrahman (1981), Nilai-nilai Indonesia: Apakah Keberadaannya Kini ?, Majalah Prisma, No 11, Th.X p. 3-8

Wahid , Abdurrahman, (2001) Indonesia Mild Secularism, SAIS review, vol XXI no2 p.25-28



[1]  Melanie Graham, 1996 dalam Defining Strategic Culture, University of Columbia
[2] Abdurrahman Wahid , 1981, Nilai-nilai Indonesia: Apakah keberadaannya kini?, Majalah Prisma, No 11, Th.X 1981   p.6.
[3] Benjamin Higgin , 1958 ”Hatta and Co-operatives; The middle way for Indonesia” Annals of t he American Academy and Political Social Science vol.318, Asia and Future world Leadership, p.52.
[4] Abdurrahman Wahid, Indonesia Mild Secularism, SAIS review, vol XXI no2 p.27.
[5] Suwarno, 1993, Pancasila Budaya Bangsa Indonesia : Penelitian Pancasila dengan Pendekatan  Historis, Filosofis. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.  p.5
[6] Ibid., p.6     


Tulisan ini dibuat dalam mengikuti Lomba Blog Paling Indonesia Komunitas Blogger Makassar, AngingMammiri.org bekerjasama dengan Telkomsel :D


Paragraf Pertama
Semua Paragrap yang di sembunyikan

28.6.12

Mewujudkan Perjalanan Impian bersama BCA

            Saya sangat tertarik ketika terlibat pada pembicaraan yang membahas tentang mimpi dan bergaul dengan para “pemimpi”, karena orang – orang yang memiliki mimpi sudah tentu memiliki tujuan dalam hidup mereka, dan biasanya mereka juga penuh semangat serta memiliki pikiran positif. Selain penyuka musik saya sendiri adalah seorang pejalan, saya suka menyusuri jalanan kota, blusukan ke kampung –kampung, trekking, dan mengetahui bagaimanakah tradisi dan budaya yang ada di tempat – tempat yang saya kunjungi. Selain menambah wawasan, hal – hal tersebut juga memberikan suatu kepuasan tersendiri. Dalam melakukan suatu perjalanan tidak jarang saya mengalami beberapa kejadian sarat pelajaran hidup , sehingga dengan itu secara tidak langsung hal tersebut juga merupakan suatu proses pendewasaan. Walaupun tidak terlalu banyak, Beberapa tempat di Indonesia sudah pernah saya kunjungi, dan Saya sendiri memiliki Salah satu dari beberapa Rencana Masa Depan untuk bisa menginjakkan kaki di negri yang ada di luar sana, Khususnya pada peradaban Asia Timur, seperti Cina dan Jepang serta Daerah Skandinavia di Eropa yang terkenal keindahannya.

            Kemajuan teknologi dan informasi telah membawa manusia pada era borderless alias dunia tanpa batas dan bepergian ke luar negeri menjadi suatu hal yang tidak sulit, maka bersyukurlah saya dan beberapa orang yang memimpikan untuk berkunjung ke luar negeri atas hal tersebut. Oleh karena itu, selain menabung serta perencanaan finansial lainnya, saya juga memerlukan suatu sarana untuk mempermudah realisasi mimpi saya tersebut. Langkah pertama adalah membuka tabungan pada salah satu bank, setelah mendapat rekomendasi dari ayah dan teman teman saya, BCA merupakan pilihan yang tepat sebagai Solusi Perbankan dalam Perencanaan Rencana Masa Depan saya. Terbukti, saya tidak mengalami kesulitan yang berarti ketika membuka rekening saat itu, dan prosesnya pun cepat, dan tidak berbelit, ditambah dengan teller bank yang sangat ramah. Bukan itu saja, jaringan atmnya pun jarang mengalami gangguan. Sementara itu, Bisnis Penerbangan sendiri juga telah mengalami berbagai macam perubahan yang progresif, dimana muncul beberapa penerbangan yang menerapkan tarif lowcost , membuka berbagai macam destinasi yang lebih luas dan menarik serta memberi kemudahan pembayaran tiket secara online. 
            Salah satu Layanan perbankan dengan Kemudahan Transaksi dari BCA dalam menunjang proses tersebut adalah BCA KlikPay, yang merupakan inovasi terbaru berupa cara bayar online yang praktis dan terpercaya. Layanan ini bisa dilakukan kapan dan dimana saja selama 24 jam nonstop. Keunikan layanan ini, nasabah dapat menggunakan dua jenis pembayaran, yakni pembayaran dari rekening BCA melalui KlikBCA Individu atau dari kartu kredit BCA Card.  Dimana dalam proses pembayarannya dapat disesuaikan dengan ketentuan dari maskapai pilihan anda. Untuk menggunakan BCA KlikPay hanya dibutuhkan tiga langkah mudah yaitu: registrasi, aktivasi dan bisa langsung transaksi. Registrasi dibutuhkan sekali saja, sedangkan aktivasi dilakukan per penambahan jenis pembayaran, setelah itu dapat langsung transaksi berulang kali di merchant rekanan BCA KlikPay. Untuk melakukan registrasi dan aktivasi, merchant rekanan BCA KlikPay, serta informasi lebih lanjut, nasabah dapat mengakses www.klikBCA.com/klikpay. Jadi dengan menggunakan BCA KlikPay anda akan mendapat suatu Kemudahan transaksi serta tiket penerbangan yang hemat waktu.

Selain itu kemudahan transaksi juga terdapat pada fasilitas lain seperti key BCA, dan sms banking yang dapat mempermudah pembayaran tagihan rutin bulanan seperti listrik, air , telepon dan lainnya. Begitupun transfer dan pengecekan saldo bisa dilakukan dimana saja kapan saja melalui telpon seluler dengan Produk dan Layanan perbankan e-banking  atau sms banking. Maka, BCA memang merupakan pilihan tepat dalam meraih Kebebasan Finansial anda di masa depan, dengan meng-klik www.BCA.co.id anda akan mengetahui berbagai macam informasi, serta layanan dan produk perbankan untuk memberi solusi perbankan dalam perencanaan Rencana Masa Depan dan mimpi – mimpi anda. Sekian cerita saya tentang mimpi mimpi saya, semoga cerita singkat saya dapat menginspirasi khususnya bagi mereka yang punya mimpi yang sama. Merupakan pengalaman yang sangat berharga ketika dapat melihat dan bertemu orang – orang baru, budaya – budaya baru, merasakan suhu dan cuaca yang berbeda serta merasakan bagaimanakah ritme kehidupan yang ada disana. semoga saya bisa mewujudkan impian saya, begitu juga dengan impian – impian anda bersama BCA. :D

ps : Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog 'Berbagi Cerita bersama BCA' :D



 

Paragraf Pertama
Semua Paragrap yang di sembunyikan

29.5.12

Tempe Mendunia (Tulisanku u/ sayembara ide diaspora)

Kala itu, aku iseng buka Timeline nya pak Dino Patti Djalal (Dubes RI di AS) aku nemuin twit beliau yang ngadain sayembara ide untuk diaspora Indonesia di Dunia, hal tersebut bertepatan dengan rencana kongress diaspora di Los Angeles Juli mendatang, dan gak tanggung tanggung meennn, yang menang sayembara ini bakal dapet Tiket plus akomodasi buat ikut tuh kongress di LA !!! So, pastinya aku semangat banget, hanya dengan menjawab pertanyaan " ide apa yang paling praktis untuk dilaksanakan oleh diaspora indonesia ? "

tapi... sayembara ini bukan termasuk yang jadi rejeki bagi aku, bukan aku yang dapat tuh the one and only ticket , hmmm tapi gapapalah at least udah ngirim, lagian pak dino sama juri lainnya bilang kalau smua ide yang dikirim bagus bagus, sampe bingung milihnya, gitu katanya, brarti saya juga termasuk kan? hhhe

oke , nih aku share artikel yg kukirim kemaren, harap maklum bila berantakan isinya, monggo dinikmati . . .

Menjadikan “Tempe” sebagai Nation Branding indonesia dalam Hal Kuliner

Kuliner secara sederhana dapat diartikan sebagai makanan atau olahannya, dan dewasa ini, kuliner lebih cenderung sebagai bagaian dari life style khususnya untuk masyarakat menengah atas. Hal tersebut dibuktikan dengan menjamurnya acara – acara televisi yang khusus untuk membahas wisata kuliner serta bergeliatnya industri kuliner di Indonesia ini. Indonesia sendiri terkenal dengan berbagai macam makanan khas yang identik dengan ‘kaya’ nya bumbu dari rempah – rempah tradisional, walaupun begitu Indonesia masih dapat dikatakan sebagai negara yang belum maksimal dalam penciptaan brand makanan nasional. Indonesia perlu belajar dari negara – negara seperti Jepang, Korea Selatan, Italia yang berhasil ‘melambungkan’ nama-nama hasil kuliner mereka, contonya, bila disebutkan kata “sushi”, “kimchi” atau pizza , bayangan kita pasti menuju pada daerah asal makanan tersebut. Dengan banyaknya variasi kuliner yang ada, Indonesia harusnya dapat membuat hal tersebut sebagai potensi untuk menciptakan sebuah nation brand dalam hal makanan.

Dari berbagai macam varian kuliner Indonesia, Tempe, merupakan salah satu makanan khas Indonesia yang baru baru ini sedang menuju proses standardisasi, dimana hal tersebut merupakan angin segar bagi proses pencapaian nation branding. Diaspora sendiri memiliki peranan penting dalam upaya penciptaan brand tersebut. Diaspora yang diartikan umum diartikan sebagai komunitas asal yang tersebar dari tanah airnya ke negara lainya ini masih tetap dipersartukan oleh visi, memori atau hal apapun tentang tanah leluhurnya walaupun mereka terpisah dari lokasi geografisnya namun. Dalam hal tersebut, Terdapat banyak sekali hal – hal kecil yang dapat dibudayakan Diaspora Indonesia di tanah Asing, dengan proses pengolahannya yang tergolong mudah (dibanding rendang atau kuliner Indonesia lainnya) misalnya menjadikan tempe sebagai variasi bekal untuk ke sekolah , kantor atau tempat – tempat tujuan mereka, dimana nantinya teman – teman mereka juga bisa ikut mencoba gurih dan lezatnya tempe Indonesia ataupun menjadikan tempe sebagai suguhan dalam jamuan makan mereka.

Begitu juga dengan Instansi terkait, seperti perwakilan KBRI yang ada juga harus ikut berperan serta dalam memfasilitasi terciptanya brand tersebut, seperti mengadakan pelatihan pembuatan tempe secara sederhana, peracikan variasi bumbu, penyediaan stock bahan atau bahkan membantu WNI yang ada di luar negeri merintis bisnis kuliner tempe dengan berbahan tempe dengan berbagai macam pelatihan ataupun bantuan sarana/prasarana dan program pendukung lainnya. Bisa jadi, dengan adanya banyak penjual olahan tempe dengan berbagai macam variasi bumbu (mungkin seperti “fenomena’ Kebab Turki di Indonesia), Perlahan tapi pasti, Tempe akan dapat menjadi salah satu makanan dengan ciri khas Indonesia yang akan lebih dikenal dunia.