Tampilkan postingan dengan label liburan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label liburan. Tampilkan semua postingan

2.1.13

Welcome back to Nusa Dua !


Cerita sebelumnya (Gili Trawangan) bisa dicek disini

Senang Rasanya, bisa benar – benar merasakan suasana areal Nusa Dua Bali, FYI saya sudah pernah kesini waktu kecil dulu, ada foto-fotonya di album rumah, tapi ya gitu karena masih kecil, saya tidak benar-benar merasakan kalau pernah kesini, dan hari rabu, 26 desemeber 2012 kemarin saya dan keluarga mengunjungi mas olif yang kerja di Bali Nusa Dua Theatre  sekalian main main di area wisata Nusa Dua. 

Setelah dari Gili terawangan sampai sore, kami menuju pusat kota, jalan –jalan , sholat dan makan, dan malamnya dilanjutkan silaturahmi ke rumah Pak Sutrisno dengan, Lombok malam itu gelap dan hujan deras akhirnya kami tidak lanjut jalan jalan kemana mana dan langsung menuju Pelabuhan Lembar untuk kembali ke Bali. Kami bertolak dari Pelabuhan Lembar, sekitar jam setengah 12 malam. Kapal kami merapat dari di pelabuhan Padang Bai Bali pagi sekali, sekitar jam setengah 4 pagi dan di Bali jam segitu belum masuk waktu Subuh, akhirnya mobil kami parkir depan masjid , tiduran di mobil sambil menunggu Subuh. 

Setelah menunaikan sholat Subuh kami pun langsung menyusuri jalanan Bali Pagi hari menuju daerah Nusa Dua, untuk mengunjungi Sepupuku, Mas Olif yang kerja disana. Pagi itu jalanan lengang sekali dan tidak sampai 2 jam kami pun sampai di Kos Mas Olif. Mobil pun diparkir di parkiran Bank BCA dan kami berjalan memasuki gang di sampingnya menuju kos Mas Olif untuk Istirahat dan Makan. Berbeda dengan jalanan yang agak lengang situasi disana cukup ramai, karena lokasinya dekat dengan pasar,  banyak sesajen yang diletakkan di sudut sudut jalan dan anjing berkeliaran, tetapi di kos mas olif yang notabene banyak perantauan muslim, alhamdulillah tidak ada anjing yang berkeliaran. 

di daerah kosan mas olif
kosan mas olif

cooking time !
Bapak – Bapak pun istirahat di kamar , aku dan jebi tentu langsung mencari colokan untuk nge-cas HP dan Laptop buat mindah foto, sementara itu kegiatan ibu – ibu , apa lagi kalau bukan memasak buat sarapan hehehe. Jam menunjukkan pukul 8 , dan itungannya masih pagi, teman – teman kos mas olif belum bangun dan kami sudah rame, masak – masak buat sarapan hhehe Akhirnya nasi pun matang , nasi pun duet dengan mie sayur, telur dan ayam taliwang yang kami beli semalam. Mas Olif pun bercerita seputar kerjaannya di Teater Nusa Dua sebagai penanggung jawab panggung pementasan “DEVDAN” yang bercerita tentang kekayaan nusantara. Pementasan tersebut termasuk yang digandrungi bule bule, dengan tiket masuk rentang 300 ribu hingga hampir 2 juta rupiah. Untuk menghilangkan rasa penasaran akhirnya mas olif mengajak kami buat liat – liat secara langsung tempat kerjanya di Nusa Dua sekalian main – main di Pantai. 






Dan berangkatlah kami, karena dekat sekali tak butuh waktu lama untuk sampai di sana, kami pun foto foto di Area Nusa Dua Teater dan seperti biasa , bapak – bapak (Ayah dan Pakde) ga terlalu berminat buat foto – foto, jadi Cuma ibu –ibu dan golongan muda yang narsis, hahahah. Setelah puas berfoto, kami langsung jalan ke belakang teater menuju Pantai Nusa Dua , teduh dan tentram sekali suasananya, beberapa bule terlihat siap – siap buat sunbathing, wisatawan lokal juga banyak yang duduk – duduk main air. Selain Pantai, hal yang menyenangkan disana adalah keberadaan beberapa tupai  yang berkeliaran di alam bebas, berlarian di dahan – dahan pohon, kami pun bermain –main dengan tupai sambil ngasi kacang, hha lucu sekali. Selain itu view dan properti restaurant dan hotel hotel disekitar nusa dua juga keren di buat foto foto, Ah, seandainya pemandangan belakang rumahku persis kaya view Nusa dua, it seems like i dont need holiday , hahahaha 



main bersama tupai

numpang foto di properti resto pantai

kontemplasi *halah*
saudara sepersepupuan



i"m the pirate !
 Sudah puas bermain main di pantai kami pun pamit pulang, mengingat mas olif yang juga mau masuk kerja jam 1. Setelah say good bye sama mas olif kami pun bertolak pulang menuju pelabuhan gilimanuk untuk kembali ke Kota Gresik tercinta, diperjalanan kami sempatkan mampir ke pusat oleh oleh Bali Agung karena tidak sempat belanja oleh – oleh waktu di Lombok. Akhirnya jam 4 sore kami pun tiba di pelabuhan ketapang lagi dan langsung tancap gas kembali ke Gresik, Mobil pun menembus jalanan malam Banyuwangi, Situbondo, Pasuruan dan seterusnya dengan diikuti hujan sepanjang perjalanan.

di depan Bali Agung
 
Jam menunjukkan pukul 2 dini hari ketika mobil sudah diparkir depan rumah, Alhamdulillah , walau liburannya agak random (tanpa perencanaan matang) tapi saya bersyukur bisa jalan jalan sama keluarga akhir tahun ini, terimakasih ayah, ibuk, adek dan bude – bude ku, salut sama pakde yang keren banget ngemudiin mobil surabaya – Lombok PP tanpa ganti ! hhhe
See you Lombok, Sampai jumpa lagi di liburan – liburan berikutnya *\^0^/*

Paragraf Pertama
Semua Paragrap yang di sembunyikan

1.1.13

I Left My “Jaw Drop” in Gili Trawangan

Cerita sebelumnya, bisa dilihat disini 

Salah satu lagu favorit saya, “I Left my heart in San Fransisco” menginspirasi judul tulisan ini, oleh karenanya tulisan ini saya kasi judul I left my “jaw drop” in Gili Trawangan (walau agak ga nyambung sih sbenarnya, hhe), diakhir cerita, akan saya kasih tau kenapa Gili Trawangan bikin rahang saya menganga – jaw dropped. alias “terperangah” 
----------------------------

Berjalan lurus ke utara sekitar 25 km dari daerah pantai Batu Layar mengantarkan kami ke daerah Pelabuhan Bangsal yang merupakan Check Point sebelum bertolak ke Gili Trawangan dengan menggunakan semacam perahu boat. Mobil pun diparkir di dekat loket pembelian tiket, pakde memilih untuk tidur di mobil selain untuk istirahat, beliau emang ga seberapa minat buat main – main di Pantai, jadilah kami berempat sekeluarga, ditambah Bude Mimik dan bude Qoim berangkat ke Gili Trawangan. Gili Trawangan merupakan salah satu pulau yang terjauh dari 3 pulang kecil di Barat laut Pulau Lombok, dengan biaya 10.000 per orang berangkatlah kami menuju kesana. 

pakde dan bude sebelum menyebrang ke gili terawangan

ibuk , bude dengan Maria (brazil, 19 tahun) dan cowoknya
Saat itu udara sangat panas dan berangin, perjalanan 30 menit dengan boat pun berasa lumayan lama karena cuaca yang ga bersahabat tersebut. Tetapi semuanya terbayar dengan suguhan pemandangan Epic Gili Terawangan. Airnya bening banget, sampe dasar tanah yang penuh batu batu lucu itu kelihatan jelas. Setelah Air dan pasir pantainya, fenomena selanjutnya yang terlihat yaitu wow, ada “Kota” pindah kesini ! Jalanan di sekitar pantai dipenuhi cafe, restoran restoran modern, tempat spa, hostel hostel dan bahkan ATM, semacam ada yang “memindahkan” bangunan-bangunan dari Pinggiran jalanan Kuta di Bali ke Pulau kecil yang lokasinya berada di tengah tengah laut alias terpencil ini. Gili Trawangan benar-benar surganya wisatawan, Bule sih ya lebih tepatnya! 
welcome to Gili Trawangan

berfoto disalah satu tempat nongkrong bule hehehe
Awalnya, kami ingin menikmati daerah sekitar gili trawangan yang bila dikelilingi panjangnya sekitar 9km itu dengan menaiki cidomo (semacam andong, tapi lebih kecil). Harga yang dipatok untuk sekali keliling yaitu 150.000 untuk 3 orang. Ayah merasa harga tersebut tidak “worth to take” alias kemahalan, akhirnya batallah naik cidomo dan beralih menyewa sepeda, yang cuma 15 ribu perjam. Ayah dan Jebi memilih mencoba kuliner di sekitar gili trawangan, aku, ibuk dan dua bude memilih bersepeda, lucu rasanya lihat 3 ibu ibu itu naik sepeda, mereka kelihatan kegirangan banget, soalnya sudah lama banget ga naik sepeda, katanya. 
ibuk :)

bude :)
Sepedaku pun berjalan menyusuri jalanan di Gili terawangan bermacam macam turis dengan berbagai macam warna kulit dan kostum, serta jajaran tempat nongkrong yang penuh dekorasi lucu yang bertebaran, Sekilas aku juga melihat sekelompok hikers dengan tas gunung besar menyusuri jalanan, mungkin habis dari Rinjani, pikirku. Ah, suasananya menyenangkan banget pokoknya, cocok untuk melepas penat karena tidak kutemui satupun kendaraan bermotor disini. Sampai akhirnya aku bosan menyusuri jalan utama dan iseng belok ke gang – gang kecil diantara jajaran hostel – hostel. Dan Hwow, aku agak kaget ketika seketika kutemui bangunan masjid yang lumayan besar. Wah, berarti mungkin di belakang sini ada semacam pemukiman penduduk lokal. Terbukti Akhirnya, setelah kuteruskan blusukan ke gang gang yang lebih dalam, suasananya persis kayak perkampungan ada rumah – rumah, warung jualan, toko pulsa, toko kelontong, anak – anak kecil bermain, bahkan toko bangunan. Nah dari situ aku sadar kalau Gili terawangan itu bukan Cuma pulau kosong yang khusus jadi tujuan wisata seperti yang aku kira sebelumnya, karena dibelakang semua gemerlap yang tampak didepan, terdampak pemukiman penduduk yang sama seperti kebanyakan. Jadi mikir, apa ini semacam unequal exchange ya, seakan akan penduduk lokal itu yang jadi servant nya bule bule gitu, ya emang sih ada nilai ekonomi yang dipertukarkan, tapi melihat kondisi yang seakan kontras tersebut berasa ga sepadan aja sih, dilemma. Yasudah, saya ga punya data kongkritnya sih, cuman bisa tau dan mikir dalam hati, tapi ga tau gimana cara memandang dan ngasi solusi, jadi fenomena ketimpangan diatas cuman berada di tataran #cukuptau aja, hmmm yah semoga penduduk lokal disana “benar-benar” sejahtera , amin 

masjid di gili terawangan

salah satu sudut pemukiman penduduk di gili terawangan
 
Well, back to the story, Capek berkeliling, aku pun nyoba makan di salah satu warung lokal, nyobain pepes ikannya yang ternyata rasanya ga jauh beda sama pepes di gresik. Setelah ngembaliin sepeda kami Cuma jalan jalan menyusuri pasir – pasir, foto -foto dan main air, karena kami memang ga siap kostum buat snorkeling atau diving karena emang dasarnya trip kesini ga direncanain toh, hha klo diving mungkin karena ga siap budget, dan perlu latihan dulu sebelumnya. 


 
numpang properti orang hha
jebi nggaya

--------------------


Hari sudah sore, dan mendung pekat menggantung, kami harus segera kembali ke Pelabuhan Bangsal, kasian pakde sudah ditinggal lama di Mobil. Kami pun kembali menaiki boat yang sama dengan boat ketika berangkat. Kapal hampir penuh , tapi masih harus menunggu beberapa orang lagi untuk berangkat. Tak lama kemudian akhirnya rombongan terakhir pun masuk, dan wow, mereka merupakan hikers yang tadi aku lihat waktu bersepeda. Sontak, mereka jadi pusat perhatian karena bawaan mereka yang segede kudanil. Seketika aku menebak –nebak, mahasiswa apa SMA ya ? karena ternyata wajah – wajah mereka masih imut semua hehehe. 

mendung pekat sebelum pulang
Aku, jebi dan ayah duduk dibagian depan, dan mereka ada dibelakang, hmm padahal pingin banget ngobrol ngobrol sama mereka. Kuperhatiin satu satu, ternyata ada salah satu dari mereka yang pake kaos PALABS , wah aku langsung familiar, PALABS kan organisasi PA yang bikin video semeru keren itu (lihat deh disini). Sebenarnya aku ga begitu tau PALABS tuh apaan, aku aja tau videonya dari temen2 Wombopala, hhe

ayah dan jebi di boat ketika pulang
Pucuk dicita, ulam pun tiba, beberapa saat kemudian salah satu dari mereka pindah kebagian depan, gara2 kesempitan mungkin. Belum lama duduk, dia uda ditanyain sama bapak2 disampingnya, aku pun nunggu, sampai akhirnya aku ada celah buat nyeletuk “ooh, Pada dari Rinjani nh?“ tanyaku , dan dia mengiyakan, aku pun tanya – tanya lagi, dia cerita kalau mereka dari jakarta ke rinjani naik pesawat trus iseng ke gili trawangan sebelum balik ke jakarta. “aku liat tadi, temenmu ada yang pake baju PALABS, kalian anak PALABS ya?” tanyaku lagi , dan dia mengiyakan , lalu kutanya mereka kelas berapa dan sekolah dimana , dijawab kelas dua SMA dan sekolah di SMA LAB Jakarta. Kala itu aku berasa bodoh, karena dari situ aku baru tau klo PALABS itu singkatan dari Pecinta Alam LAB School (bgitu kira2, yang intinya, PALABS itu ya PA nya SMA LAB) nah, udah jelas PA-nya SMA LAB kok aku malah nanya mereka sekolah dimana, pliss , hha. 

Trus dia balik nanya tau PALABS darimana, kujawab tau dari temen2 pecinta alamku (wombopala,red.) yang ngasi tau video perjalanan semeru mereka di you tube, dan darinya aku tau klo yang bikin tuh video keren emang kakak kelasnya di SMA LAB. Setelah itu kami lanjut ngobrol – ngobrol tentang Semeru. Belum lama cerita – cerita, mendung yang sudah lama menggantung itu pun menjadi hujan yang lumayan deres, semua penumpang pun merapat ke tengah agar tidak terkena hujan hingga akhirnya sampai kembali di pelabuhan bangsal yang anehnya udah terang hujannya. Ibuk dan Bude udah nyuru aku buru – buru kembali ke Mobil jadi aku gak sempet say goodbye sama anak2 Palabs tadi  *ga sempet foto2*. 

FYI, sesampainya aku dirumah, aku iseng cari grup facebooknya PALABS , dan voila ! ternyata ada grupnya di FB dan terlihat ada postingan foto anak-anak PALABS di puncak Rinjani yang aku temui kemarin di boat sepulang dari gili trawangan. Trus aku iseng buka profil mereka, trus nemu link twitternya , terus nemu blognya, (hahha kepo banget sih aku). Bukan gimana-gimana sih, cuman seru aja, apalagi setelah baca salah satu blog à fajarhartono.com, aku jadi tau kalau si fajar (anak yang ngobrol sama aku di boat kemarin) itu ternyata peserta termuda yang tergabung dalam ekspedisi KILIMANJARO dengan 2 perwakilan lain dari UNJ lainnya, oh God, dia masih kelas 2 SMA lho padahal, whooa proud of you, kid !

Nah, begitulah cerita kunjungan singkatku ke Gili Trawangan, walau singkat, beberapa hal telah membuat aku terperangah, pertama, melihat berpindahnya “kota” ke remote area macam gili trawangan, yang belakangan aku ketahui kalau mau bikin rumah atau bangunan harus “impor” pasir sak-sak an dari Lombok yang kulihat sendiri di kerjakan oleh penduduk lokal lalu di angkut pake perahu / boat ke gili trawangan *ga bisa mbayangin gimana susahnya*, kemudian juga tentang ketimpangan yang terlihat antara “tampak depan” gili trawangan yang indah dan menyenangkan sama pemukiman penduduk. 

Terlepas dari fenomena gili terawangan yang aku temui, hal lain yang bikin aku senang pas ksana kemarin yaitu ketika berkesempatan ngobrol bentar sama salah satu anggota PALABS yang kutemui di boat, apalagi setelah tau klo dia itu bukan anak PA biasa, tapi anak PA yang sudah berhasil menaklukkan KILIMANJARO, di Tanzania seperti yang ku ceritain diatas. So Then, that’s why my Jaw dropped, Glad to see you, and hope we’ll meet again, cool kid  !

               
cerita berikutnya, at nusa dua Bali , akan saya post selanjutnya :)

Paragraf Pertama
Semua Paragrap yang di sembunyikan

Family Outing December 2012 :)


                Akhir tahun ini, saya dan keluarga bertandang kembali ke Lombok. Bagi saya sendiri, ini kunjungan ke tiga saya setelah akhir tahun 2004 dan 2010 silam (ceritanya bisa diintip disini ). Seperti biasa perjalanan ini sebenarnya tidak direncanakan matang, karena awalnya saya dan jebi lebih ingin ke Solo atau Bandung saja, tapi lagi-lagi ayah memutuskan untuk kembali ke Lombok, untuk sekalian menyambung silaturahmi dengan langganan dagang Ayah (Pak Sutrisno) yang sudah lama pesen kopyahnya Ayah. Sambil menyelam minum air, begitulah kira – kira :).
                Sebelum berangkat, Sore nya ada Acara Kumpul-Kumpul Keluarga besar Rutin, yang kali ini bertempat di rumah Mas Rofiq, di Suci, Gresik. Dan malamnya, sekitar pukul 21.30 malam, kami pun berangkat. Tujuan pertama yaitu ke Banyuwangi, ke rumah kerabat di Ketapang, yaitu Bu Ning, yang lokasinya tepat didepang pelabuhan Ketapang, Nah, itulah yang menjadi alasan “seringnya” kami memilih Bali menjadi tujuan wisata, karena hanya tinggal selangkah lagi untuk menyebrang. Pukul 6 pagi kami sampai di Banyuwangi, harusnya kami bisa sampai lebih cepat, tetapi kondisi jalan dan kendaraan sudah padat merambat karena menjelang libur natal.

--------
                Jam sudah menunjukkan pukul 11, Siang itu begitu panas dan kami tetap memutuskan untuk menyebrang ke Bali. Sebenarnya rombongan keluarga kami ada 3 mobil, tapi satu mobil harus kembali ke Malang karena masih ada acara, Akhirnya hanya dua mobil yang melanjutkan ke Bali. Antrian memang sangat padat, tetapi lancar. Tidak sampai satu jam, kami pun mendapat giliran. Satu persatu deretan mobil memasuki kapal dan berlayarlah kami ke Bali. Tujuan pertama kami, adalah Masjid, selain untuk sholat dan istirahat sejenak, tujuan kami ke Masjid adalah untuk memasak. Ya, memasak! Mungkin keluarga kami satu-satunya keluarga yang membawa kompor ketika melakukan perjalanan jauh, di sudut parkiran mobil, kami pun menanak nasi dan menggoreng telur. Ini bukanlah pengalaman pertama kami untuk memasak sendiri saat melakukan traveling, ketika mengunjungi Lombok 2010 silam kami sudah menenteng kompor dalam mobil, begitu juga saat family trip ke Lampung tahun 2009, kami juga  melakukan hal yang sama. Dari beberapa perjalanan tersebut saya menyadari kalau bakat, ehm, mental backpacker saya, saya dapat dari dari keluarga saya. hehehe
Ya, kompor dan alat2 masak ini ada di bagasi belakang !
                
Setelah ishoma, kami pun melanjutkan perjalanan, tujuan kami selanjutnya yaitu ziarah makam. Ya, keluarga besar saya berlatar belakang NU (Nahdlatul Ulama), dimana tradisi ziarah ke makam wali – wali atau ulama’ memiliki suatu keutamaan tersendiri. Oleh karena itu, akan selalu disempatkan untuk mengunjungi makam-makam waliyullah setiap melakukan perjalanan. habib Ali bin Umar bafaqih Bafaqih merupakan makam ulama yang kami kunjungi Sore itu, di depan gang makam juga ada beberapa bis dari jawa timur yang sedang ziarah. Melihat semua itu saya sendiri berasa bukan lagi di Bali, orang-orang lalu lalang pake peci dan sarung, serta kumpulan ibu ibu berbaju muslimah, berasa masih di jawa timur jadinya. 


Suasana Ziarah di Makam habib Ali bin Umar bafaqih, Bali

Ibuk dan jebi di yayasan dekat lokasi ziarah

Aku dan Bude, di depan gerbang menuju lokasi ziarah
          Matahari hampir mau pamit ketika kami kembali dari ziarah, kami pun langsung meneruskan perjalanan ke pusat kota Bali, Denpasar. Kala itu malam Natal, tetapi alhamdulillah jalanan tidak seberapa macet. Pukul 9 malam kami sudah berada di pusat kota, setelah ishoma , rombongan kami berpisah, Mobil Om Fauzan langsung menuju rumah teman Om fauzan untuk menginap karena tidak ikut serta ke Lombok, dan Mobil keluargaku (keluargaku dan keluarga Bude Mimik) langsung melaju ke Padang Bai malam itu juga. 
              Malam itu hujan rintik – rintik mengguyur Bali, perjalanan ke Padang Bai benar – benar tidak terasa karena sepanjang perjalanan aku tidur. Kira – Kira jam 12 Malam sampailah kami di padang Bai, biaya menyebrang untuk mobil pribadi sekitar 600.000an (lupa berapa tepatnya). And Still, walau malam itu malam natal, kondisi pelabuhan Padang Bai kala itu sepii, ga ada antrian yang berarti kaya dari Ketapang ke Gilimanuk, atau memang udah tengah malam ya, mungkin. Sayangnya, tidak seperti tahun 2009 lalu, kami dapat kapal biasa, yang hanya berisi kursi kursi panjang, ga ada kamarnya, ya gapapalah yang penting bisa selonjoran. Waktu menyebrang sekitar 4 jam, ga kerasa karena kami semua tidur, pules, capek banget seharian penuh di mobil. 
------------
Selamat Datang Di Lombok, bit! . Matahari pun perlahan mulai mengintip, Sekitar jam 4 pagi, kapal sudah bersandar di Pelabuhan Lembar, dan tujuan utama kami setelah itu, apa lagi kalau bukan masjid besar, mandi, sholat dan ya, memasak ! Setelah semua ritual tersebut selesai kami pun menyusuri Lombok pagi hari, Mobil yang dikemudikan Pakde melewati daerah Kota Tua di daerah Ampenan, kala itu berasa “Magic”, soalnya gambaran – gambaran kota tua itu sebelumnya uda pernah kubaca di majalah natgeo traveler itu kini terpampang didepan mata, dan Pas ke Lombok dulu aku ga begitu aware sama jalanan di Kota Tua ini, mirip – mirip sama daerah Kemasan di Kota Gresik gitu, i always love that kind of time-traveler journey !
                Sayangnya, kami tidak menyempatkan waktu sejenak untuk mampir atau sekedar berfoto di daerah Kota Tua tadi, karena kami langsung menuju Pantai Senggigi untuk tujuan pertama. Namun, setelah sampai di sekitar Senggigi, tidak ada satupun dari kami yang yakin dimana tepatnya belokan menuju pantai senggigi ini, akhirnya secara random pakde membelokkan mobil ke suatu pantai yang terlihat banyak orang datang kesana yang akhirnya kami tahu bahwa itu merupakan Pantai Batu Layar, kata orang – orang sana, pantai senggigi berada sekitar beberapa kilometer lagi. Di postingan liburan ke Lombok yang dulu, saya menulis kalau pantai senggigi itu kotor dan ga pemandangannya biasa aja,tapi akhirnya saya sadar saya keliru, karena pantai (yang dulu saya anggap) senggigi yang saya kunjungi dulu itu ya pantai Batu Layar, yang memang view pantai nya emang tidak begitu bersih.






bude - bude, ayah dan ibuk

                Setelah puas main – main di Batu Layar, Ayah pun bingung untuk memutuskan kemana destinasi selanjutnya. Memang karena ini tujuan utamanya itu Silaturahmi ke Pak Sutrisno jadi tujuan – tujuan wisata nya belum kami rancang secara khusus. Awalnya Bude Ingin kembali lagi ke daerah Praya dan Rambitan untuk mengunjungi desa wisata sasak dan dilanjutkan ke Pantai Kuta Lombok, sama seperti tahun 2010 lalu, tapi aku ngotot buat cari destinasi lain. Pliss, di Lombok banyak banget destinasi yang bisa dikunjungi, masak balik – baliknya sama aja yang dikunjungi tahun lalu. Akhirnya aku pun ingat pernah minta itenerary wisata Lombok ke Mas Fatah – Kakak Kelas HI yang Penulis Travellicious Lombok. Sejurus kemudian kubuka laptop dan kucari file nya, setelah baca cepat (karena laptop lo-bat dan ga ada sarana buat nge-charge) ada dua pilihan, ke pusat kota untuk ke Museum NTB dan Narmada, atau ke Gili Trawangan. Setelah berunding sejenak  kami memutuskan untuk menuju Gili Trawangan, berdasarkan cerita cerita dari teman teman yang sudah pernah “benar-benar” ke Lombok  buat traveling, Gili Trawangan terdengar lebih oke .

--------------
cerita Gili Trawangan bisa diintip di postingan selanjutnya :)
Paragraf Pertama
Semua Paragrap yang di sembunyikan