Tampilkan postingan dengan label backpack. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label backpack. Tampilkan semua postingan

5.8.11

Pare’s Short Trip : Candi dan Gua Surowono (2)

Caving at Surowono Cave : Journey to the Center of the earth, eh ?

Setelah puas mengeksplore candi Surowono, kita lanjutkan perjalanan ke Gua Surowono, Lokasinya sendiri gak seberapa jauh dari candi, hanya perlu bersepeda lagi skitar 1 kilo . Suasana sudah lumayan rame pas kita nyampe disana, ternyata hari itu banyak juga sekelompok arek arek pare yang ngantri mau masuk ke gua. Mengapa harus antri? Karena , klo kita mau masuk, ga boleh sendiri2, harus berkelompok skitar 20 orang, dan WAJIB pake guide, karena jalan di dalam gua yang bercabang dan gelap (takutnya nyasar).

Sama seperti sebelumnya, Gua ini sedikit melenceng dari ekspektasi, kukira kita akan masuk objek wisata gua yang ada semacam stalaktit dan stalagmitnya kayak gua Maharani gitu, ternyata eh ternyata, I’m totally wrong. Gua Surowono ini ternyata dialiri oleh sungai kecil , yang tingginya sekitar seperut (perutku, lho ya I am about 155cm :p) yang berarti kita harus rela basah-basahan kalo mau nyusur gua ini. Yak, awalnya kita ragu mau masuk, apalagi kalau bukan karena saltum . tapi berbekal pepatah “wes adoh adoh rene, ga dilakoni, kapan maneh !” (sudah jauh2 ksini, ga ngapa2in, kapan lagi) kita pun memutuskan untuk ikut susur gua.

bergaya sebelum masuk :D

Akhirnya, giliran rombongan kami yang masuk, kami berempat, ditambah beberapa anak kursus bahasa Jepang, dan 4 bocah petualang (3 cowok 1 cewek , SD/SMP mungkin) , 20 Orang inilah yang jadi team caving kali ini (ceile caving). Satu persatu kami menuruni tangga buatan menuju mulut gua, dan “byurrrr” mulailah kami nyemplung ke sana dan masuk ke dalam gua dengan kaki telanjang (harusnya pakai sepatu boot, iya ga?). samar samar cahaya matahari hilang perlahan, awalnya agak gelap, trus tambah gelap, dan akhirnya gelap total.

Pak Guide memimpin kami di depan, diikuti 4 bolang, terus akyu, hhe dan belakangku cewek cewek, dan paling belakang cowok cowok, semakin ke dalam, gua semakin gelap dan sempit, oleh karena itu, kita harus berbaris biar bisa cukup masuknya. Yah, begitulah kami, sepur sepuran didalam, minimnya equipment yang kami punya bikin tambah merinding, bayangin, senternya Cuma satu guys, dan itu dipegang pak guide di depan, sedangkan kita hanya berbekal hp yang dibungkus plastik biar ga kena air. Dan itu satusatunya sumber cahaya kita di dalam.

Dalam perjalanan tak hentihentinya aku berdoa, serem pek, udah sempit , gelap, basah, dingin pisan. Disana pun aku jadi kepikiran yang engga engga, gimana klo longsor, gimana klo terjebak di dalam, gimana klo guidenya salah jalan trus ga bias keluar2 alias nyasar #abaikan . Tetapi suer kok, Kusaranin deh , klo kalian punya sindrom klaustrophobia alias takut tempat sempit dan gelap, jangan coba2 deh ikut masuk nih gua. Sesekali emang agak sesak napas disana , karena emang ruangan yang sempit dengan banyak orang bikin oksigen juga menipis (sok sience) hhaha.






team : aku, rila, soka, dinur plus anak les jepang, pak guide dan si bolang :D

Dan Selama perjalanan dalam gua yang lumayan jauh itu, bapak guide juga banyak bercerita, bahwa ni gua sudah ada sejak lama, sejak jaman majapahit dulu. Dan sebenarnya banyak cabang –cabang jalan yang lain di dalam gua ini, tetapi para sesepuh yang nemuin dulu gak berani mbongkar jalan yang tertutup, soalnya pas itu ada yang nyoba mbongkar akhirnya terkena semacam penyakit, jadi sampai sekarangpun ga ada yang berani mbongkar cabang – cabang gua yang lain karena kejadian tersebut, padahal menurut cerita yang beredar di masa lalu, gua gua yang menyebar di seantero Kediri ini, saling menyambung satu sama lain. Setelah guidenya cerita gitu aku jadi mikir, mungkin hal tersebut mirip kayak cerita cerita di mesir gitu, pas ada arkeolog yang mau mbongkar pintu/ jalan atau mindahin barang di dalam pyramid bakal kena semacam kutukan, hehehehe terlepas itu bener ato engga, ya terserah pemirsa menanggapinya, yap, that’s life, that’s history.

Nah, Gua Surowono ini, modelnya ada 3 gua yang menyambung jadi 1, ada 3 celah mulut gua untuk keluar dan masuk, jadi klo tman2 sekalian sudah mempunyai perasaan yang ga enak ketika susur gua pertama bisa berhenti di pintu gua kedua dan tidak meneruskan, tetapi klo ngerasa asik asik aja, bisa diteruskan sampai gua ketiga , and our team, sukses sampai gua ketiga, tanpa kekurangan suatu apa, Alhamdulillah

Sorry guys, malah banyak fotonya kita ya, hehe gak bisa poto2 didalem guanya sihh, :D

Finally selesai juga, petualangan kita hari ini tepat pukul 11 kita pun keluar dari gua, dilanjutkan foto2 diluar gua (didalem gua, kita gak bisa poto2 nih, basah soalnya) dan tentunya perjalanan akan terasa berbeda kalo kita ga saltum , pake boot, pake senter yang nempel dikepala, sarung tangan, bawa semacam handycam yang tahan air dan lain sebagainya. Hehehe

Setelah puas bernarsis ria, kitapun bersepeda (lagi) pulang, That’s kinda short time trip, but, that’s worth and really nice :D, kagak nyesel dah

-Budget :

Masuk gua dan parkir : 1000 rupiah

Guide : 10.000 rupiah sekali jalan/team (20 orang) , jadi ya 500an per orang :D murah meriah

Paragraf Pertama
Semua Paragrap yang di sembunyikan

Pare’s Short Trip : Candi dan Gua Surowono (1)






Visit Candi Surowono

Selama masa kursus bahasa Inggris di Pare, kuhabiskan weekend dengan nyambi “blusukan” di sekitar kota kecil ini. Setelah Alun –Alun pare dan keliling Kota Kediri di weekend yang pertama, weekend selanjutnya kuputuskan untuk mengunjungi Candi dan Gua Surowono. Akhirnya, Sabtu pukul 7.30 pagi berangkatlah kami (Aku, Rila, Soka dan Dinur) menuju lokasi tersebut, yang berjarak sekitar 6 kilo dari wilayah kursus kami dan tahukah kawan? Kami kesana pake sepeda lo, asik kan? :D Sepanjang perjalanan mata kami dimanjakan dengan pemandangan a la pedesaan yang kereen banget, penuh sawah sawah, maklum , sudah lama ga ngelihat hamparan ijo-ijoan selama di Surabaya. Terlebih udara pare yang masih bersih , jarak yang panjang menjadi agak tak terasa.

Sekitar 45 menit kemudian, setelah Tanya sana sini, sampailah kita di Candi Surowono, dan wow, sebenarnya agak diluar ekspektasi, candinya tidak seberapa besar, hanya ada 1 komplek bangunan candi serta beberapa batu bagian candi yang ditata memanjang sebelum dipasang untuk melengkapi candi. Walaupun begitu kita tetep aja narsis, dan foto foto disekitar candi, duduk di taman dan mencoba nerjemahin relief-relief candi (sok sok an jadi arkeolog, kayak yang film the mummy, :p) tapi sayang sekali, waktu disana kita belum sempat nanya-nanya ke penduduk lokal tentang sejarah candi ini, kami hanya tahu klo nih candi dibangun di Era Majapahit.

Klo kita lihat secara umum, pengelolaan wisata budaya candi ini sudah cukup bagus, terbukti dengan dibangunnya areal pertamanan yang terlihat rapi dan lumayan bagus disekitar candi. Ada juga Informasi tentang sejarah candi yang ditempel di Papan pengumuman walaupun kurang begitu mewakili, karena penataan papan informasi yang kotor dan kurang menarik, makanya kita jadi males baca sejarahnya, hehhehe. But, At least, Kami cukup senang menghabiskan waktu disana, suasananya asri dan menenangkan (halah). :D

-Budget :

Transport = 0 rupiah (sepedaan)

Tiket masuk dan Parkir = 1000 rupiah

Paragraf Pertama
Semua Paragrap yang di sembunyikan

28.2.11

yang berbeda dari madakaripura :')

bergaya depan air terjun : yang moto bpk guidenya :)

Setelah denger kabar kalo wombopala (wong mbois pecinta alam, red.) bakal ngadain trip ke air terjun, aku stuck antara dua keadaan, antara senang dan bimbang, senang karena weekend ku gak akan suram, bimbang karena ragu apakah aku bakal diijinin ikut sama ayahku buat pergi, yang bikin ayah agak berat ngasih ijin itu soalnya bulan ini aku udah jalan2 ke WBL sama temen2 BEM trus mbolang ke Ambarawa sama temen2 kelas. So, pesimis rasanya untuk pergi lagi bulan ini, apalagi ke Probolinggo. Dan kekhawatiran itu akhirnya terjadi, ibuk sih mengijinkan walau agak berat, tapi ayah rada alot, dan itu berlangsung slama dua hari yang sukses membuatku terombang ambing antara yo dan gak. padahal itu aku ijinnya ke malang lho, bukan ke probolinggonya. akhirnya kegalauan ini terjawab sudah dengan diberikannya saya beberapa lembar rupiah untuk bekal saya ke Probolinggo (ijinnya ke malang lo) pada jumat paginya,,, maka berangkatlah saya hari itu...


Cerita yang aku share disini, pada akhirnya ga sesuai dengan bayanganku sebelumnya, yang bakal nyeritain hal yang menyenangkan dari awal sampe akhir seperti biasanya, postingan ini bukan cerita tentang nyobain gramedia dan mushola ekslusif grand city (mal baru deket delta) sama truly sebelum berangkat ke malang, lupa klo ada acara BEM (parah), atau dua backpacker prancis yang kutemui di kereta sore saat berangkat ke malang (ceritanya mereka mau ke bromo),bukan, bukan tentang itu, tapi ini cerita tentang suatu kejadian yang ga bakal kulupa, ya, gak akan kulupa.


Hari itu, setelah perjalanan sekitar 3jam dari Malang, akhirnya sampailah kita di lokasi wisata air terjun madakaripura. Untuk sampai di spot air terjunnya, kita harus menyusuri sungai2 berbatu yang mungkin jaraknya sekitar 2 kilo yang menurutku terasa agak jauh karena efek medannya yang terjal. Sesampainya kami di spot air terjun tersebut Oh my.... aku terperangah sembari memuji nama Allah karena udah diberi kesempatan buat nyaksiin eksotika air terjun ini. air terjun madakaripura yang "super wow" dengan letaknya yang sangat artistik, diapit diantara dua tebing yang ditemani rintikan air, jadi suasananya kayak hujan rintik2 gitu, padahal hari itu tidak hujan. Hmmmm, menurutku ini benar-benar air terjun yang paling bagus yang pernah kutemui. :))



Air tejun Madakaripura (ambil dr web) : di kamera ga ada yang keren sih :p


Jam nunjukin sekitar jam satu siang, Setelah menjelajah diantara sungai berbatu dan puas bermain2 air kami ber-12 memutuskan untuk kembali, karena menurut guidenya sebentar lagi akan turun hujan dan lokasi air terjun tersebut akan berbahaya bila hujan sudah turun, well, akhirnya kami kembali menyusuri jalan yang sama seperti saat kita berangkat tadi. Pada awalnya semua berjalan baik-baik saja, kita masih tertawa haha-hihi, saling mengejek dan melempar guyon,, saat itu cewek2 berjalan di depan ada Rila, Alin dan Gembuk yang paling depan, lalu ada Aku, Dino, Malin dan Abai. Saat itu aku ngobrol santai sama dino, sambil cengengas cengenges, masih ingat sekali kami membicarakan kakak si dino yang barusan married, aku ga konsentrasi sama jalan setapak berbatu licin yang kulalui padahal di kiriku itu ada jurang kecil sedalam sekitar 4 meter dan ....


"bruukkkkk!!" aku terjatuh , masih ingat sekali, tubuhku menghantam batu dua kali, lalu berhenti dengan posisi tangan kanan tertindih badanku, badanku gemetaran, aku ga iso mikir , kudengar diatas suara gaduh manggil manggil aku, tapi aku masih tertelungkup, masih diam ga percaya. badanku masih gemetaran.., pelan-pelan kaki kuselonjorin , di bawah uda ada abai sama pak guide nanya2in aku segala macem, tapi aku malah diem, bingung (bahasa jawanya : petenggengen) setelah ditanyain mana yang sakit sama guidenya aku bilang tanganku, trus tangan kananku di urut sama pak guidenya. aku pengen nangis, nyesek. aku pengen nangis bukan gara2 sakit, biasa aja malah sakitnya, aku nyesek itu gara2 inget ibukku, ya Allah,, pas itu aku merasa bersalah banget sama ibuk, apalagi ayah, merasa.. menyalahgunakan kepercayaan ,,,




tak lama habis foto disini, aku jatuh :(

Tahukan kalian kawan? ini bukanlah pertama kalinya aku ga ijin secara sempurna, dulu ke blitar, bilangnya ke malang. pas ke jogja, bilangnya itu proyek kelas, begitu juga dengan semarang, Trus pas ke Jogja pas merapi itu, bilangnya ke Solo, dan terakhir ke Ambarawa itu, bilangnya ke semarang, ya Allahhh, aku merasa busuk, sangat busuk.coba kalau kepalaku mbentur batu2 itu, coba klo di bawah tebing itu banyak batang2 runcing, coba kalau aku jatuh dengan posisi yang ga bener, dan coba kalau2 yang lainnya, ga bisa mbayangin gimana jadinya. setelah itu tak henti2nya aku mengucap syukur dan manggil2 ayah dan ibukku dalam hati.




medan yang dilalui sebelum spot air terjun : beautifully extreme


Subhanallahh, Subhanallah


Slama perjalanan pulang, dan sampai sekarang aku jadi mikir, ya, emang aku salah atas ketidakjujuranku, tapi bukan apa2, ayahku bukan tipe orang tua yang mbiarin anaknya semaunya, cewek, pergi kemanamana sendiri atau bahkan rame2 pun, tanpa alasan yang jelas alias cuman pingin mbolang, apalagi model backpacker yang semua serba ekonomi dan keamanan yang tidak pasti, jelas bukan itu yang diharapkan orangtuaku yang tentunya mereka ingin aku jadi anak yang manis, dan melakukan kegiatan seperti yang lainnya, kuliah, belajar yang rajin dan lain sebagainya, makannya aku selalu beralibi kalau kepergianku itu buat riset atu proyek belajarku, ya tapi ga salah toh, dengan mengunjungi banyak tempat aku jadi banyak tahu gimana keadaan diluar sana yang otomatis banyak meluaskan sudut pandangku salam melihat sesuatu.


Sampai note ini ditulis, aku ga cerita apa2 sama ayah atau ibuku. walau ibuk bertanya knapa aku cuma di kasur aja seharian dengan ditemani balsem dan minyak taw*n, aku jawab capek biasa (padahal njarem) , Aku sadar, kejadian ini merupakan teguran dari Allah dan bakal aku ambil hikmahnya, yaitu untuk benar2 ijin dengan jelas mau kemana aku, sama siapa dan dengan alasan yang jelas, ga bisa toh aku terus menerus beralibi klo mau kemanamana. semoga pada saat itu aku bisa memberi pengertian sama ayah n ibukku dan meyakinkan mereka klo apa yang kulakuin ini ga cuman sekedar main and that’s worth to do dan yang penting mereka ga perlu khawatir , InsyaAllah, everything will be fine. Selama niat dan tujuannya baik. =)


Thanks God for giving me a chance to learn and think, Alhamdulillah, I’ll never forget . . =)


semoga tulisan ini bermanfaat :)

(bee,2011)

Paragraf Pertama
Semua Paragrap yang di sembunyikan

19.2.11

berkelana dengan bus Short heritage track :)


sing : aku tukang pos rajin sekali,, surat kubawa naik speda..

(tau th lagu ga? :p)


Gereja kelahiran perawan santa maria
itu pertama kalinya aku masuk gereja : wohoo, what an experience !!



pose @HOS n bus SHT , hans n nichole (kiri atas)



Track dengan bus SHT ini bukanlah yang pertama kalinya buatku, udah pernah sebelumnya, aku sangat bersyukur sekali dengan adanya bus SHT ini, i put my honor for those who make this idea :) jadi bus ini bakal nganterin kalian puter puter warisan budaya surabaya selama 1-2 jam dengan ditemani guide yang kompeten.
Hari itu akhir desember, aku dan dina mutusin buat ikut tour SHT nya HOS . Karena bulan ini ada natal, jadi tema tour kali ini adalah peringatan natal , salah satunya dengan mengunjungi gereja kelahiran perawan Santa Maria (Gereja Kepanjen) , Setiap bulannya setiap tour memang bertema, contohnya pada bulan oktober tema nya hari pahlawan, waktu puasa dan lebaran bus ini juga ngunjungi masjid sunan Ampel lho, dan bulan februari ini temanya imlek, tujuan tournya ke klenteng2 jadinya, asikk kan... berhubung gue sama dina ga pernah ngerasain masuk gereja, kita exited banget pas ada info tour ini, kita ga bakal ngelewatin..
dan yang spesial, selain dapat pengetahuan dan pengalaman baru, kita juga dapat teman bule baru, hans dan nichole, couple dari belanda yang udah sebulan backpacking di Indonesia, dan Surabaya ini merupakan tujuan terakhir mereka sebelum off ke belanda. Sepanjang perjalanan sesekali kami ngobrol dan mereka cerita kalo sebulan ini selain Bali mereka juga sudah ke Labuan Bajo guys, Pulau Komodo !!!! , waaa asik banget, sayangnya kita cuman punya 1 foto di kamera kita. tapi foto kami banyak di kamera mereka, nichole suka banget pas moto kami, kami di suruh berpose, dan ...

" splash!!!"
"hmmm, beautiful" kata nichole hihihihi

hope someday we can meet you guys
:))

Paragraf Pertama
Semua Paragrap yang di sembunyikan

15.2.11

36 hours jogja : kala merapi

Perjalanan penuh "skandal" ini sebenarnya udah terjadi sejak bulan oktober tahun lalu, karena satu dan lain hal, baru bisa saya posting sekarang. Well, mengapa aku bilang perjalanan ini penuh "skandal "? pertama, perjalanan ini sangat mendadak, dinar mengajak ku berangkat hari kamis dan hari sabtu pagi sudah berangkat. kedua, pada saat itu saya tidak punya banyak duit. ketiga kala itu sedang UTS dan terakhir yang paling krusial & membuatku terbebani selama perjalanan adalah saya tidak izin ibu saya !! Why ? karena pas itu sedang anget2 nya isu merapi, masih banyak debu n abu vulkanik yang bertebaran, dan aku yakin ibu ga bakal ngasih ijin----

ttaaapiii, entah mengapa saya nekat aja ikut dinar, mungkin gara2 penasaran gimana kondisi jogja pas merapi, dengan modal "BISMILLAH" berangkatlah saya.....,
dan sepanjang perjalanan saya hanya berdoa...

banyak hal spesial yang terjadi saat perjalanan berkereta ke jogja, di kereta kami segerbong dengan rombongan suatu aliran agama tertentu yang klo kusimpulin semacam islam kejawen (mungkin) analisisku ini berdasarkan gaya pakaian mereka yang jawa banget, perihal kepergian mereka ke kutoarjo untuk melihat wayang, dan statemen mereka yang "mengagungkan" (menaruh respek lebih) pada sunan kalijaga dan syeh siti jenar karena hanya mereka wali yang asli jawa (bukan campuran/keturunan arab, gujarat , persia, dll seperti lainnya), tapi kami juga agak ragu karena tidak ada satupun dari ibu2 rombongan itu yang memakai kerudung, jujur sih, kami ya mana berani tanya mereka, " ini, aliran apa sih pak? " hehehe , jadinya kami cuma bisa mengira ngira saja ---
oia, selain menemani perjalanan dengan begitu banyak cerita dan guyonan, rombongan ini juga menyelamatkanku dari teguran pak kondektur saat insiden karcis ku ilang *isin2 ni rek* hhahhaa

Setelah sampai Jogja, kami langsung menuju ke kosan lady (teman dinar) *sekedar info ,lady nih betina tangguh guys, dia pernah nyepedah jogja-blitar, dan baru2 ini nyepedah ke lombok, so damn cool !!!!* di kosannya lah kami "menumpang" sampai besok, kebetulan kosan dia sepi , UGM lagi libur, setelah kami dijamu makan siang *yihaaaa , rencana sebenarnya , kami mau ke daerah deket magelang, buat liat daerah yang masih banyak diselimuti abu vulkanik, tapi ada miss komunikasi dengan teman dinar (yang lain) yang ternyata lagi ga ada di jogja pas itu .dengan meminjam sepeda lady dan temannya. akhirnya kami putuskan buat bersepeda menyusuri UGM aja, saya dan dinar puter2 kompleks UGM dan terkesima, aku langsung menaruh iri yang sangat amat pada kompleks universitas ini, sumpahh kerennn banget... dibandingin sama UNAIR (apalagi fisip) jauhhhhh banget, udah rapi, bersih asri banyak pohon, ada jalur sepedanya sendiri lagi, ckckckckckck, aku ga heran klo Dinar bener2 pingin masuk UGM dulunya ..



bersepeda dan berpose @ UGM , amazing :D

Malamnya setelah makan malam dan nyoba kopi koprol yang aneh deket kosan lady, aku dan dinar lanjut ke Malioboro, hunting foto sama teman dinar. dan lagi lagi kami bersepeda, gilaaaaa, seru poool, UGM-Malioboro lumayan sih 6 kilo , jadi kita nyepedah malam2 12 kilo PP , yang bikin seru dan unforgettable itu karena kita bersepeda dengan kecepatan tinggi *mengejar waktu, temen dinar ga bisa lama2 nemenin soalnya* menembus malam, jalan terjal, ngelewatin jalan raya besar yang banyak mobil seliweran... , dan sensasi abu vulkanik yang masih terasa... , gila wes, kita nyepedah malem2 di jaln gede dengan keadaan mata kelilipan dan mulut terasa makan pasir gara2 efek abu, wuihhhh, bener2 memacu adrenalin pokoknya, aku ga habis2nya berdoa, ya gak lucu klo aku sampai knapa2 di jogja dalam keadaan ga ijin ibukku... bisa gawat.. tapi alhamdulillah, saat sampai malioboro suasana telah normal, sampai pulang pun masih selamat, Alhamdulillahh.....


sparkling malioboro : walau merapi belum begitu normal, suasana sudah kembali normal :)

setelah, bersenang2 kemarin, keesokan paginya, barulah kami benar2 menjalankan misi kami buat menengok suasana pengungsian, dan lokasi pilihan kami yaitu posko merapi yang ada di UPN Yogyakarta, dengan di antar mas coki, (teman dinar yang lain lagi) kami menuju posko UPN dengan motor, dan tentang kunjungan kami kala itu saya malah sudah membuat laporannya lama sebelum post ini saya buat, report dan foto2nya bisa dilihat di postingan november 2010 http://tsabitabee.blogspot.com/2010/11/menilik-suasana-pengungsian-posko-upn.html



daerah sekitar kos lady :
sunday market UGM, sepatu berselimut abu, langit pagi jogja


sekiannn :)

photo by : Dinar Okti, but some photos by me :p

Paragraf Pertama
Semua Paragrap yang di sembunyikan

8.2.11

Catatan perjalanan: exploring Ambarawa :)) part 2

Foto foto perjalanan dapat dilihat di semarang-ambarawa (2)

Rasa Penasaran yang tertinggal Benteng Willem (Pendem)
Rintikan hujan tidak menghalangi niat kami untuk terus berjalan menyusuri jalanan ambarawa untuk tujuan selanjutnya, setelah berjalan sekitar 500 meter, akhirnya kami sampai di sebuah tempat, kata orang2 sekitar sini, nama benteng ini, benteng pendem, tapi dari beberapa sumber di web, sebenarnya nama benteng ini adalah benteng Willem. Jadi menurut kami, masih ada hubungannya dengan museum kereta api yang tertera tulisan Willem 1800 berapa ya?1800an pokoe, Dibagian depan bangunannya. Pertama kali sampai, semuanya serba tak meyakinkan, kami (atau hanya aku) berasa aneh, merinding disko pokoknya, tapi kita tetep terus masuk aja ... dan wow ! benteng bagian dalamnya lawasss bangett, asli, semuanya tambah semakin artistik ketika fenomena benteng ini di rekam di video atau di jepret pake kamera, tapi sayang kotor, banyak coretan, sampah dan dedaunan berserakan. Suasana disana sepi banget, hanya ada kita, tetapi ternyata, setelah kami naik ke lantai atas benteng itu, wow, surprise !! ada rumahnya orang guys, jadi, satu blok tingkat atas benteng itu jadi rumah penduduk, lengakap dengan palang RT/RW, tapi walu pintu-pintu nya terbuka, rumahnya kosong, hanya ada kursi yang bergoyang. Akhirnya kami memilih cabut, tapi masih tersisa banyak pertanyaan ketika kami berjalan meninggalkan kompleks benteng itu, sebenarnya itu dulu tempat apa? Buat apa? Sekarang jadi apa? Mau tanya siapa?

Budget = 0 rupiah, jalan kaki



Wisata Religi : Menepis tabu, Meluaskan Cakrawala 

- Gua Maria Kerep
Saat sampai disana, cuaca masih gerimis, Suasana di tempat ziarah umat katholik ini begitu tenang, di halaman depan tampak tempat parkir, kantin dan beberapa toko souvenir yang menjual pernak pernik peribadatan umat katholik, mirip kayak tempat ziarah wali-wali yang ada di Jawa, Disana terdapat 1 Gereja Utama, Altar untuk misa, tempat tempat lilin, dan yang paling menarik perhatian kami adalah diorama yang menceritakan kisah penyaliban Yesus sampai dimakamkan di bukit Golgota, diorama tersebut dinamakan jalan salib. Dari sana kami bisa mengetahui urutan kejadiannya, arti beberapa simbol umat katholik, filosofi 5 roti dua ikan, dan banyak sejarah sejarah lainnya. Tiba- tiba ada seorang pekerja yang mendekati kami, beliau mengaku telah bekerja disini sejak awal temoat ziarah ini berdiri. Menariknya, beliau ternyata seorang muslim, dan bercerita bahwa arsitek Gua Maria Kerep ini juga merupakan seorang Muslim yang berasal dari Tuban, sayang, kami lupa namanya. kami jadi teringat pula, kalau arsitektur masjid istiqlal juga bukan muslim, senangnya, bisa saling membantu.. 

- Klenteng Hok Tien Bian
Agak kecewa, ketika kami sampai di kuil ini, yang pertama, karena ternyata tempatnya ga begitu besar, masih kalah jauh sama klenteng Sam Poo Kong yang di Semarang atau klenteng kuno yang pernah kami kunjungi di jalan dukuh, yang kedua, kami tidak diperbolehkan masuk kedalam, padahal di klenteng2 lain biasanya kami boleh masuk, yah, tapi paling tidak kami bisa berfoto di depan plataran klenteng itu, jadi sekedar saran , kuil ini bisa di skip dari target bila terburu-buru, better ke Sam Poo Kong di Semarangnya. 

Budget : Getting around berangkot di Ambarawa cukup terjangkau, hanya 2000 rupiah, PP 4000
Malah kalau mau jalan lebih hemat, Klenteng- Tentrem, Museum, letaknya deket banget



Hotel Tentrem : Rain Rain go Away, come again another day. .
Hujan masih saja terus mengguyur, jarak hotel tentrem dan klenteng sebenarnya sangat dekat, karena hujan, maka kami putuskan berangkot. Kami memang tidak membuat plan B, bagaimana jika hujan turun, jadi kami terus berdoa biar hujan cepat berhenti , dalam hati, saya terus berdoa dan membatin Rain Rain go Away, come again another day. .
Hotel tentrem, hotel tipe Melati II, cukup strategis, berada di depan terminal ambarawa, walau ketika pertama masuk suasana agak spooky, lawas kabeh soalnya, tapi hotel ini murah, murah banget, sekamar Cuma 40.000 , 2 bed besar dan kamar mandi dalam, lumayannnn

Budget : kita sewa 2, total 80.000, buat cewek 1 kamar ber 5, cowok 1 ber 2 , semua di bagi rata so @10.000/cewek 15.000/cowok


Huwooo, Jauh- Jauh ke Ambarawa Buat Makan Pizza !
Kami menungggu hujan reda di kamar, istirahat sambil berbenah, malamnya kami berencana ke tempat pemancingan ikan di Muncul, tetepi setelah dipertimbangkan kita cancel karena takut kemalaman dan budget membengkak, karena menurut info tempat pemancingan itu jaraknya hampir 1 jam dari tempat kita, lagian klo mancing ikan biasanya mahal, so, kita putusin buat cari makan di daerah sekitar ambarawa, sambil jalan2 .. , ceritanya tadi pagi kami lewat dapur pizza, trus mupeng pengen nyobain, dan akhirnya kita jalan kesana dan nyobain pizza ambarawa, hahahahha, ”cukup” terjangkau kita cuman habis 68.000 ber tujuh, pizza nya lumayan enaakkkk , walau ga kenyang2 amat, coz porsinya dikit. Lama kita disana soalnya sambil ngobrol n becanda ngalor ngidul, ya begitulah kami, jauh jauh ke Ambarawa buat makan Pizza, hahahahha


Candi Songo, far far away
Kita checkout hotel sekitar jam 7 pagi, kenapa begitu lama? Karena keran air hotel tentrem baru bisa dinyalakan pukul 5 pagi, ya bgitu jadinya, kita buang waktu buat nunggu air dan mandi. Yasudah, sebelum capcus ke candi songo, kita mampir ke museum n monumen PALAGAN AMBARAWA, icon kota Ambarawa, stelah poto2 kita langsung go ke candi songo. Kita berangkat pake mobil umum daihatsu merah, dengan membayar 8500/orang, kita diantar paknya sampai pintu depan candi songo. Perjalanan memakan waktu skitar 1 jam, Beh, adoh pek, ndukur gunung tempatnya. Sesampainya disana kamipun menyusuri kompleks candi tersebut, perlu diketahui di kompleks ini ada 9 candi yang tersebar (jadi tidak dalam 1 spot) dan jarak dari satu candi ke candi lain sungguh amat sangat jauh, medannya nanjak, ada 2 hal yang bikin perjalanan yang sebenarnya indah jadi gak mood, pertama tas ransel kami yang segede gaban, dan harus di bawa kemana-mana di jalan yang nanjak, kedua, lagi lagi hujan rintik2 , bikin males, harusnya tas itu dititipin ke ibu ibu toilet, agar jalannya bisa nyantai, tapi kita baru kepikiran pas pulang. Sebenarnya ada kuda yang bisa di sewa, tergantung jarak, dari 20.000 – 70.000an klo mau sepaket (sampe candi nomer 9) tapi ya taulah, budget udah menipis, ntar aja klo udah jadi orang kaya raya, dermawan , dan baik hati, gue mau ksini lagi jalan2 naik kuda hahahahaha, tapi impas lah sama eksotika pemandangan pegunungan, terasering, jurang, bukit bukit, yang seru pas liat areal persawahan dari atas tebing, mirip crop circle, hhaha, selain candi, di kompleks ini juga ada kawah belerang, pemandian air panas, dan sayangnya, jika mau berendam, harus ngeluarin kocek 3000, tapi kalo cuman mau “kecek” di bawah belerangnya gratis, hhe. seperti biasa, perjalanan diakhiri dengan foto session di beberapa spot, makan jagung manis , dan pipis.

Budget : Masuk museum palagan ambarawa : 2500
Transport ambarawa – candi songo (sampe depan) : 60.000/7 = 8500/person (wes nawar sampek elek)
Tiket Masuk candi songo : 5000
*klo mau naik kuda : 20000 – 70.000/orng tergantung jarak



Umbul Sidomukti : Marine Bridge, uji nyali membawa remek
Setelah tragedi tawar menawar dengan bapak supir (kita pakai mobil yang bawa kita berangkat tadi) FYI- angkot bolak – balik ke umbul sidomukti jarang sekali alias ada klo kita beruntung, so, dengan terpaksa kita bayar 140.000 alias 20rb /orang buat carter mobil (dianterin ke umbul, di tunggu, dianterin turun, terus dianterin ke per3an ambarawa buat nyegat bus) ya sudahlah. Umbul sidomukti ini letaknya juga diatas gunung, gila, tempatnya jauh , jalannya ga layak buat obyek wisata, harusnya pemkot semarang hirau dengan masalah ini dong *halah , jalannya nanjak banget, sempit, cuman bisa dilewati 1 mobil, ngeri pokoe.
Menurut Informasi, tempat wisata ini baru ada tahun 2007 kemarin, masih sangat baru rupannya, selain wisata alam, yang paling menarik adalah kolam renang di atas gunung, yang airnya asli dari gunung. Jadi airnya naik keatas gitu, trus ada juga fasilitas outbound yang bisa dicoba, ada flying fox, atv, rappelling, marine bridge, dll pada saat itu kami nyoba flyng fox, yang bikin keren lintasannya ngelewatin tebing tebing dan pohon2 di atas gunung, asik tenann, tapi sensasinya ga begitu terasa, walau tinggi banget tapi lintasannya kurang panjang, jadi Cuma swing bentar aja..
Nahhh, yang paling fantastic itu pas kita nyoba marine bridge, dengan tampang sok kuat , kita (aku, maygy dan pakde) bersemangat buat nyoba wahana yang satu itu, jadi ceritanya kita disuruh ngelewati jaring super gede yang dibentangkan dari satu bukit ke bukit lain, yassalammm., bener bener pengalaman sing ora iso dilalekne, hampir putus asa ketika kaki terperosok ke lubang jaring, dan dibawah itu sudah jurang guys, aku, yang harusnya meniti tali dengan berjalan, dengan amat sangat pasrah gulung gulung di jaring super gede tadi, sampek pengen nangis, berbeda keadaannya dengan double dinar yang melihat “aksi” kami dari atas tebing sambil ngguyu ngakak , hey guys, kalian gat au betapa merananya kami disana, hha, at least kami udah nyoba, dan mugkin ga mau mencoba marine bridge untuk keduakalinya.

Budget :
Dari Candi Songo – Umbul PP : 140.000/7 = 20000/orang
Tiket masuk hari biasa = 5000 (weekend 7000)
Flying Fox : 12.000 Marine Bridge : 8000
*lainnya : ATV : 25.000 Rappelling : 8000


Kecewa Lawang Sewu
Setelah Umbul sidomukti, kami segera bergegas ke semarang, menuju lawang sewu, kami naik bus jurusan Ambarawa- Semarang, wuih, busnya rock n roll guys, kita kayak liat sirkus, gimana aksi bang supir yang ngambil jalur berlawanan, banting setir, aksi heroik kernet yang kakinya sampai terseret-seret di aspal pas bus lagi jalan dengan kecepatan tinggi, koyok sulapan, koyok numpak roller coaster hha (jare arek2 sh, aku tidur soalnya). Menurut info yang kami dapat lawang sewu bisa dikunjungi kapan aja, jadi kami optimis ketika sampai semarng pukul 5 sore. Ternyata oh ternyata, buka fulltimenya itu cuman dari kamis – minggu aja, senin –rabu, tutup jam 5, yassalammm, sungguh, kami sedih tiada tara kawan , walau sudah mengemis pada satpam tetep aja ga dibukain… ya.. sudahlahhh… , kapan kapan kan masih bisaaaa. jadinya kami menghabiskan malam menunggu kereta dengan menyusuri jalan pandanaran, beli oleh-oleh, trus makan dan jalan lagi ,,
Budget : Bus Ambrwa – Smg : 6000 , angkot semarang : 2500an , tiket lawang sewu (klo jadi) : 5000 , masuk bawah tanah (klo jadi) : 5000



Bye bye Semarang
Akhirnya, rangakaian perjalanan kami berakhir , kami menghabiskan malam dengan nyamik di mushola stasiun poncol, menunggu kereta ke Surabaya yang datang jam 12.30 pagi dengan harga sama kayak pas berangkat 37.000. Sekedar info, tukang loket di stasiun poncol agak nakal, dia narik duit seribu dari tiap orang , alasannya gak ada kembalian, *mungkin klo ada petugas yang baca blog ini, oknum tersebut bisa ditindak (zzzzzzz), Byeee Semarang Ambarawa….


P.S :
What a Trip, Thanks a lot for this experience, though it ain’t flawless, it’’s still worth doing it, Let’s do it again some other time, :D
(Putra n Cecil)

Thanks to
Our beloved God for his mercy n blessing, Our parents buat sangunya, pak wibowo dan istri, pak penjaga hotel ganesha, mas andra n the backbone yang ngasih aku tempat duduk pas pulang, orang-orang yang mbantu ngasih petujuk arah, dan semua pihak yang telah membantu apapun pada kami yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu, matur suwun,, Gusti pengerang sing mbales . N the last thanks for the team, klo ga ada kalian, ga rame, hha


Mohon maaf bertele tele, gak bisa nyingkat sh, hhehe

Paragraf Pertama
Semua Paragrap yang di sembunyikan

Catatan perjalanan: exploring Ambarawa :)) part 1

Foto2 perjalanan bisa dilihat di album foto semarang-ambarawa (2)

Time: Senin 31 Januari – Rabu 2 Februari 2010
Team: Tsabita, Dinar Prisca, ,Putra, Pakde ,Cecil, Dinar Okti, Maygy

Perjalanan Surabaya - Semarang (otomatis romantis eksotis)
Kereta kami berangkat dari stasiun pasar turi pukul 15.30 Sore, tetapi kami sudah stand by di sana sejak jam 2 siang, hal itu bukan semata karena kami “kerajinan”, kami sengaja datang lebih awal agar dapat tiket kereta ekonomi dengan tempat duduk, dan thanks God, kita dapat tempat super pewe, satu blok ujung gerbong pertama yang emang pas buat ber lima, (Dinar dan Maygy menyusul dari kotanya masing2, blitar dan kertosono) . jadi, suasana begitu privat, hanya kami. 5 jam perjalanan yang diwarnai awan mendung, panas terik,hujan badai, petir menyambar dan gerbong bocor pun tidak begitu terasa, kita lewatkan waktu dengan ngemil, denger lagu, main A,B, C an bertema GJ, ngisi TTS, ngobrol banyak hal, dari film korea Kim Tak gu sampai Thomas Taw dan Francesca Fusco, *alamaaaakk

Budget: tarif kereta ekonomi, sby – semarang Rp. 37.000


Suatu Malam di Temaram Kota Semarang
Tribute to: Mr Wibowo and Wife
Jam 20.30 kita sampai di Stasiun Poncol, setelah ritual buang hajat, kami pun bergegas menuju penginapan. sebenarnya di hape sudah ada banyak sekali daftar penginapan, tujuan kami adalah wisma BAPELKES milik dinas kesehatan, tetapi letaknya di sekitar simapang lima, akhirnya iseng2 saya nanya ke mas2 petugas di stasiun, kali aja ada penginapan yang lebih murah dari list saya disekitar stasiun, dan mas2 itu menjawab dengan tatapan (sedikit) aneh klo disekitar situ memang banyak “penginapan” murah. Sejurus kemudian ada bapak baik hati menyela pembicaraan kami dan menanyai kami macam2, mau kemana dan cari apa, dan dari bapak tersebut itulah kami mengetahui kalau penginapan disekitar poncol itu “BPB” alias Bukan penginapan Biasa, alias penginapan es*k-es*k (u know what). Akhirnya setelah kami mengatakan Wisma Bapelkes sebagai alternatif tadi, dengan sangat menyesal beliau berkata kalau wisma tersebut sedang di renovasi. Yassalammmmm, dan singkat cerita beliau mengantar kami menyusuri kota Semarang untuk mencari penginapan yang aman dan sesuai budget kami

“ Ayo, kalau mau saya antar, semarang ga seperti jogja mbak,, yang banyak penginapan murahnya, disini kalau tidak hati-hati mencari, bisa gawat sampeyan, tenang saja saya bukan makelar .. “ tegas pak Wibowo

Kami menunggu lama bersama bu dewi, istrinya, sedangkan pakde dan pak wibowo muter2 semarang cari penginapan yang pas, Lamaaa sekali, sampai ga enak sama ibu dewi, Akhirnya setelah pencarian lama, akhirnya Pak wibowo dan pakde membawa Good News, hasilnya Penginapan GANESHA di jalan cipto yang menjadi pelabuhan terakhir kami malam itu *ceileee Setelah berterima kasih yang sebesar besarnya ke pak Wibowo, kami pun berangkot ke GANESHA, sesampainya disana kami pun ber “ sekongkol “dengan pegawainya . ..
“ Yaaa, sama-sama tau lah mas,,, mbak,,,” kata pegawainya
Well, akhirnya kita bisa istirahat semalam disana bed lumayan, kamar bersih, ber AC dan surprise.. ada Tvnya pula, hanya dengan 20.000/ orang
Alhamdulillahhhhhh (Kata Kami) :D
PenyertaanMu sempurna atas kami (kata Pakde) :D
Thanks to God, for sending Mr wibowo and negotiable hotel’s keeper to us 

Budget : Angkot ke ganesha 2500, Nginep Ganesha 20.000/person



Menyusuri Hiruk Pikuk Semarang di Awal Pagi
Jam 6.30 kami berlima sudah siap berangkat, tapi kami bisa keluar skitar jam 7 lebih, menunggu BOS besar yang punya penginapan berangkat kerja .

“Besok, keluarnya di atas jam 7 ya mas, biar bos saya berangkat kerja dulu, bisa berabe klo di catatan saya bayarnya segini,, tapi yang keluar gerudukan” kata pak pegawainya

Hha, lucu deh klo inget,jadi kucing2an kita,, Setelah itu kami pun keluar dan berjalan menyusuri Semarang menuju Masjid Baiturrahman Simpang Lima, kami janjian ketemu sama Dinar dan Maygy disana, Jalanan semarang bersih, rapi gak seribet Surabaya,jarak dari Ganesha ke simpang lima lumayan jauh, tapi karena jalan sama-sama jadi gak kerasa, Jam setengah delapan kami sampai, Maygy dan Dinar sudah ada disana lebih dulu, wajah mereka terlihat tetap segar walau semalam mereka “menginap” dan “mandi” di Mushola stasiun, hihihihihi
Nb : kereta Dinar dan Maygy sampai stasiun jam 3 pagi, so daripada keluar dan ga aman, alternatifnya ya “menunggu pagi” di stasiun, :p



Soto Ambarawa : Sensasi bening, murah mengenyangkan
Tim kami akhirnya lengkap, sudah pas 7 orang dan kami pun langsung bergegas ke tujuan utama kami, ”Ambarawa!!!” Setelah naik angkot menuju Java mall dan oper bus 2 kali, akhirnya setelah perjalanan sekitar satu jam, kita nyampai juga di Ambarawa. Sebelum ke tujuan pertama, yaitu Museum Kereta, kami memutuskan makan dulu, di per3an sebelum museum kereta ada warung soto enak, dengan kuah bening dan sambel ijo yang ajibbb, dan kamu tahu berapa harganya guys? Cuman 3000 semangkok, wuih udah murah, enak pisan, ckckckc, sangar!!

Budget : Simpang Lima – Java Mall = 2500
Bus Java Mall – per3an Poli = 5000
Per3an Poli – Ambarawa = 6000
Rute diatas bukan yang paling murah, salah strategi dan buang waktu, harusnya bus Java Mall ke Per3an poli ga perlu, langsung saja semarang –Ambarawa Rp 6000, 



Meretas Sejarah : Berpetualang dengan Kereta Kelinci di atas rel :p
Setelah berjalan sekitar 500m kami pun sampai di Museum Kereta, wow, berasa balik ke masa lalu, dinding dinding bangunannya klasik banget, gaya art deco eropa eropa gitu, Sejarah perkereta apian akhir abad 19 tersirat dari semua pameran perlengkapan kereta kuno, dari mesin pencetak karcis, telepon, alat hitung, jajaran loko-loko uap yang hitam gagah, kerenn pokoknya, setelah puas foto foto kita naik lori wisata, di luar ekspektasi sih sebenarnya, kereta lori yang kita naiki ini satu tingkat mirip sama kereta kelinci, bedanya, kereta ini jalan di atas rel, Di atas kereta lori itu kami heboh kegirangan, menyusuri perkampungan, deket banget jaraknya, sampe jemuran warga pun bisa kami sentuh, hhe, rumah rumah penduduk, ayam peliharaan yang bebas ga di kandangin, pemandangan gunung. Hamparan hijau sawah, dan yang paling cool, pemandangan rawa pening yang berkilauan tertimpa matahari, sebagian rawa yang menghijau tetutup eceng gondok, beberapa rumah sungai dan perahu nelayan yang menjala ikan, amazing ! yang kata dinar prisca mirip banget kaya landskap lukisan, bener bangett, subhanallahhh, eksotis sekali. Total perjalanan tersebut 13 km pulang pergi, di tempuh sekitar satu jam plus berhenti sekitar 10 menit di stasiun tuntang, stasiun kuno ambarawa yang sudah tidak dipakai lagi, what an exotic trip, kami benar-benar tidak menyesali naik kereta kelinci ini.

Budget :
Tiket Musum KA : 5000
Wisata Kereta Lori : 200.000 sekali jalan, kuota 20 orang, saat itu hanya ada 10 orang yang berangkat, jadi dengan terpaksa kami merogoh kocek 20.000/ orang untuk ini, padahal sebelumnya ada rombongan anak2 TK, kalau kita agak lebih cepat datang, pasti lebih murah.
Sebenarnya ada wisata kereta uap yang lebih keren dan eksotis melintasi gunung, tapi untuk naik itu, kita harus sewa, trus minimal ada 100 orang yang naik, coz sekali jalan tuh kereta butuh duit skitar 3,5 jeti, yassalamm... >,<

bersambung ke episode 2 .... cekidott

Paragraf Pertama
Semua Paragrap yang di sembunyikan

13.1.11

keliling surabayaaaa (foto sudah diaplod di postingan oktober)

Perjalanan ini sudah kami lakukan lama, nih ceritanya aja... , sebenarnya naskah ini udah ku emailin ke jawapos for her journey 2 minggu lalu, ya tapi piye, ga dimuat muat, ku post disini aja ya, hehehehe

cekidot

Keliling Surabaya : Budget Mini, Kualitas Maksi


Semua ini berawal dari kesamaan hobi antara saya dan beberapa kawan, diantaranya yaitu jalan-jalan, melihat dan bertemu orang baru, memfoto dan difoto (pastinya). Saat libur atau jadwal kosong merupakan waktu yang pas untuk sejenak melepas hiruk pikuk kuliah dan kegiatan kampus lainnya, berhubung sebagian besar dari kami adalah anak perantauan, alias anak kos, maka hobi-hobi kami tersebut harus dilakukan secara irit tapi tetap fun dan relaxing. Jalan-jalan disekitar Surabaya, menurut kami merupakan pilihan yang tepat, selain tidak perlu mengeluarkan banyak budget, lokasi juga tidak terlalu memakan waktu, pas sekali dengan padatnya jadwal kuliah kami, dan pada akhirnya ”acara” jalan-jalan tersebut tidak sengaja menjadi sebuah rutinitas liburan.


Masih ingat sekali, Perjalanan pertama kami adalah area Tugu Pahlawan dan sekitarnya, dan disitulah kami menemukan informasi tentang Museum HOS (House of Sampoerna) dengan fasilitas SHT (Short Heritage Track) yang dapat membawa kami tour keliling tempat bersejarah dan warisan budaya yang ada di Surabaya, dari situlah keinginan kami untuk meng-eksplorasi wilayah Surabaya muncul. Akhirnya perjalanan – perjalanan selanjutnya kami rancang, menyocokkan jadwal, mencari info tempat-tempat seru di Surabaya, dan tidak lupa, angkot apa yang dapat mengantar kami kesana karena tidak semua dari kami mempunyai motor. Peta Surabaya, Kamera, Botol minum, Notes untuk bahan membuat catatan perjalanan dan tentunya dompet dan Hp merupakan hal wajib ada di ransel dalam perjalanan kami.


Perjalanan paling seru menurut saya adalah ketika kami blusukan menyusuri daerah Surabaya Utara. Start dimulai di daerah Jembatan Merah yang penuh dengan bangunan arsitektur Eropa, dan dari sana kami berjalan kaki melewati kya-kya, kembang jepun, menyusuri daerah pecinan, berkunjung ke klenteng serta berbincang dengan pengelolanya, dan dari beliaulah kami mengetahui bahwa klenteng tersebut merupakan yang tertua di Surabaya. Panas terik bukan menjadi halangan, kami benar-benar sangat exited melihat gambaran Surabaya masa lalu di daerah tersebut, kamipun terus berjalan sampai akhirnya tiba di kawasan makam Islam Sunan Ampel dengan kampung arabnya, benar benar fun, berasa berpetualang lintas benua, dari Eropa (daerah sekitar Jembatan Merah) ke Asia (Daerah Kembang Jepun & kawasan Ampel).


Tempat yang tidak kalah serunya adalah yang terakhir kami kunjungi, yaitu ketika kami melihat secara langsung makam Belanda di daerah Peneleh, kami benar benar kagum dengan arsitektur dan model makam bangsa yang dulunya pernah menjajah kita ini, tapi, sedih juga rasanya melihat kompleks makam yang dibangun tahun 1814 itu kotor dan tidak terawat, akses untuk masuk kesana juga sulit, sehingga kami harus melompat tembok pembatas untuk masuk ke dalam kompleks pemakaman dan tentunya tak akan bisa masuk jika kami tak bertanya pada warga sekitar, padahal menurut informasi yang kami dapat, kompleks makam belanda tersebut merupakan kompleks makam tertua selain yang ada di Jakarta dan berpotensi menjadi objek wisata sejarah.


Banyak sekali cerita dan pengalaman yang kami dapat ketika melakukan perjalanan tersebut, keluar masuk kampung, makan tahu campur di pinggir jalan, berfoto di jalan dan diliatin banyak orang, bertukar informasi dengan penduduk setempat, bahkan bertemu dan kenalan dengan wisatawan asing, oh iya, sering juga kami dikira jurnalis, karena dandanan kami, dengan topi, ransel, lengkap dengan kamera dan notes, sehingga tak jarang muncul pertanyaan “ wartawan, ya mbak? “ dari orang-orang yang kami temui, walau sebenarnya sih kami tak keberatan disangka begitu, hehehe...

Teks by : Tsabita Shabrina

Photo by : Dinar Okti

Paragraf Pertama
Semua Paragrap yang di sembunyikan

5.1.11

Amazing Place: Masjid (Ponpes) bergaya campuran Persia,Thailand dan Eropa








Amazing Place: Masjid (Ponpes) bergaya campuran Persia,Thailand dan Eropa


Hari Pertama tahun baru, (ternyata) aku masih bisa bangun pagi, pagi-pagi aku sama beberapa sepupu keliling komplek perumahan dan menyusuri jalan Dinoyo, dan di pagi pertama tahun 2011, jalanan malang masih sepi.Sekitar Jam 9an dan seterusnya beberapa keluarga yang lain mulai berdatangan, Jam 10, Acara Resmi pun dimulai, Setelah Tahlilan dan Doa bersama, kami makan-makan , ;DSuasana sangat riuh kala itu, dari yang paling tua sampai bayi , rameee banget pokoknya, haha, ya maklum lah, namanya kumpul-kumpul keluarga besar,,

Setelah Duhur, kami bersiap –siap untuk berwisata –short trip gitu, ga jauh-jauh, kemana coba? TUREN, yang merupakan salah satu daerah di Malang mengunjungi “MASJID JIN” , keluarga kami mendengarnya dari mulut ke mulut teman- temannya, karena penasaran kaya gimana, maka kami memutuskan kesana, Yup, itulah kontroversi yang terjadi di masyarakat. Ada yang mengatakan sebagai masjid tiban alias tidak tau kapan bangunnya, lalu tau-tau udah berdiri dengan megahnya. Belum lagi bentuknya yang menurut sebagian orang unik dan aneh.tetapi setelah masuk dan dapat pencerahan dari ustad yang ada didalamnya (bisa dibilang guide) menyatakan dengan tegas bahwa bangunan ini bukan masjid jin, tetapi sebuah PONPES super megah berlantai delapan yang pembangunannya di arsitekturi sendiri oleh sang kiai , Pondok pesantren ini bernama pondok Bihaaru Bahri ’Asali Fadlaailir Rahmah. Bertempat di Jalan Wahid Hasyim, Gang Anggur, Desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Klo dari kota malang sekitar 22 KM, ato sekitar setengah jam perjalanan dengan kendaraan pribadi.

Bener bener dah, pas masuk, amazing, arsiteknya jenius kataku , -yang tak lain tak bukan merupakan kiai ponpes ini sendiri dari hasil istikharahnya, ya keren banget dah ada gaya persia, eropa, sama kubh2 kerucut kaya kuil kuil di thailand, ya daripada penasaran liat dewe aja ya ksana, silakan dilihat poto potonyaaa...



Paragraf Pertama

Semua Paragrap yang di sembunyikan

14.11.10

Menilik Suasana Pengungsian posko UPN Jogjakarta


































Paragraf Pertama

Foto 1 : Jemuran Pengungsian
Foto 2 : Relawan (Peneliti/Reporter) asing
Foto 3 : Bersama anak-anak pengungsian
Foto 4 : Nenek, Di dalam Aula
Foto 5 : Suasana pengungsia, dalam Aula

Reporter : Tsabita shabrina
Foto : Dinar Okti
Guide: Mas Choki
Lokasi : Posko UPN Jogja

Minggu, 14 November 2010, Saya, dinar dan mas choki mengunjungi salah satu posko Bencana Merapi di UPN jogjakarta. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 8 pagi, tetapi suasana masih terlihat sepi. Setelah masuk lebih dalam mulai terdengar suara lagu-lagu anak-anak, oh, ternyata beberapa kakak kakak relawan dari UGM sedang mengisi acara untuk anak-anak, yaitu senam pagi. Pada menit menit awal tampak anak- anak terlihat antusias mengikuti salah satu gerakan perwakilan relawan tersebut, tetapi pada akhirnya mereka sibuk bermain sendiri-sendiri. Aula UPN sendiri sudah hampir 2 minggu menjadi posko pengungsian korban bencana, dan saat kami kesana, sudah hampir setengah total pengungsi sudah kembali, mengingat beberapa hari ini aktivitas merapi mulai normal, dan polusi dari debu-debu vulkanik sudah agak mereda.

Lain anak-anak , lain pula orang dewasa, setiap posko mempunyai program tersendiri untuk pengungsi anak, selain untuk mengisi waktu, kegiatan-kegiatan sengaja dirancang sedemikian rupa, agar anak-anak tidak bosan lalu menjadi stress. Kegiatan tersebut contohnya seperti senam pagi, makan bersama, sekolah cerdas, games-games edukatif, hiburan sampai bimbingan agama. Terlihat orang dewasa dan manula rata rata Membantu menyiapkan makanan, mencuci dan menjemur baju, - mereka membuat jemuran dari tali atau menjemurnya langsung diatas rumput, ada juga yang sedang istirahat, menonton TV dan membaca koran. Di dalam aula tersebut terdapat satu televisi kecil di tengah - yang kami rasa tidak cukup untuk dibagi ribuan orang, tetapi beberapa koran lokal maupun nasional, menyediakan supply koran gratis agar pengungsi dapat mengetahui perkembangan dunia luar, khususnya liputan merapi.

Diluar aula, beberapa tenda medis, dapur umum, serta sekretariat bantuan didirikan. Selain itu tim SAR, TAGANA, dan dari TNI Polri terlihat berjaga disekitar aula UPN. Tidak hanya bantuan dari lembaga- lembaga siaga bencana yang berada di lokasi tersebut , terdapat pula beberapa posko dari produk-produk bisnis, seperti bantuan dari perusahaan rokok, mie instan, dan lain sebagainya. Di sekitar meja kesekretariatan terlihat penuh sekali, berbagai macam tempelan data, seperti data pengungsi, data orang hilang, data wilayah, dan peta wilayah merapi dan sekitarnya tertempel dimana-mana. Beberapa relawan juga terlihat sedang memasok bantuan baru dari luar, Dan kebetulan saat kami berkunjung kesana 2 relawan asing juga hadir disana untukl meliput kegiatan pengungsi, tetapi sayang , kami tidak mendapat celah untuk sekedar melakukan wawancara singkat dengan kedua relawan aing tersbut, tak jarang pula kami melihat ada beberapa bantuan dari industri komersil mengabadikan sendiri secara langsung penyerahan bantuan mereka kepada korban pengungsi dengan seragam dan atribut lengkap produk tersebut.

Begitulah, bencana yang hadir di negeri ini, tidak hanya harus di "sedih" kan saja , selain menjadikan pelajaran agar kita selalu bersyukur dalam menerima apapun angrah dari yang kuasa , dan mempraktekkan syukur itu tidak hanya dalam hati dan ucapan tetapi juga dengan perbuatan, seperti menjaga lingkungan titipan tuhan yang maha esa ini, tinggalkanlah keegoisan semu kita dan mari bersamma-sama belajar untuk memberi sedikit ruang untuk kebersamaan. semoga derita korban bencana dapat segera tersudahi, begitu juga dengan "derita-derita" lain yang dialami bangsa ini.

(bee)


NB : laporan ini ditulis maraton, makanya awut-awutan dan ga terstruktur, karena besok ada uts,
so , bila ada waktu lagi , laporan ini akan dielaborasi,
sekian , semoga laporan ini bermanfaat dan dapat membuka lebih jauh cara pandang kita dalam melihat sesuatu.
terimakasih
- Foto lain ada di Admin,(klo pingin liat)

Semua Paragrap yang di sembunyikan